Kerkhof : Kokohnya Agama dan Senjata


Minggu sore 10 April 2011,gelapnya awan menuansakan kesunyian menjadi tema salah satu situs sejarah Perang Aceh,Kerkhof Peutjoet,Banda Aceh.Sebuah situs sejarah yang menjadi bukti kokohnya Agama dan Senjata sejak tanggal 26 Maret 1873 sampai 1942.Sekitar 2200 jasad prajurit Belanda termasuk serdadu Jawa,Batak,Ambon dan beberapa serdadu suku lainnya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda dikuburkan di “tanoh Kape” itu.Empat jendral Belanda dan anak kesayangan Sultan Iskandar Muda,Meurah Pupok juga di makamkan di Kerkhof Peutjoet.Meurah Pupok yang dihukum rajam oleh Sultan Iskandar Muda karna melakukan perbuatan asusila terhadap istri seorang Perwira Muda Kerajaan,merupakan penegakan hukum yang diwujudkan langsung oleh Sultan Iskandar Muda.Perbuatan tersebut merupakan salah satu contoh keadilan yang merata tanpa melihat status dan kepentingan pribadi,di lain sisi,penegakan hukum yang dilakukakn oleh Sultan Iskandar Muda ini juga merupakan salah satu bukti betapa beliau menjunjung tinggi hukum Islam,yaitu hukum yang telah di atur oleh Allah SWT.Dengan menolak setiap masukan yang dihanturkan oleh penasihat kerajaan,sang raja tetap teguh pada pendiriannya.”Gadoh aneuk meupat jrat,gadoh hukom ngon adat pat tamita?”,artinya,”hilang anak masih ada kuburannya,hilang hukum dan adat dimana kita mencarinya?”,itulah sepenggal kata yang menghentakan hati,akhir dialog panjang antara raja dan penasihatnya.Akhirnya pada tahun 1636 Meurah Pupok di hukum rajam dan dipertontonkan di khalayak ramai.Terlinang air mata raja melihat anak kesayangannya mati tersiksa.
•••
Situs sejarah Kerkhof Peutjoet ini terletak di Jln.Teuku Umar,Kampung Sukaramai,Blower,antara Museum Tsunami dan Perguruan Katolik Budi Dharma.Terbentang sekitar 200 x 5m jalan kecil yang menghubungkan antara Jln.Teuku Umar dan gerbang masuk Kerkhof Peutjoet.Terlihat rapi dan bersih,potongan rumput pendek yang diselingi pohon-pohon hias bernuansa taman wisata serta warna krim segar yang menjadi warna pilihan untuk tembok kokoh pembatas antara makam dan halaman luar.Terlihat juga batu marmer setebal kira-kira 3Inch,panjang dan berisi pahatan nama-nama penghuni makam Kerkhof Poetjoet yang dilekatkan di dinding-dinding tembok.Terdapat satu jalan utama dalam komplek pemakaman serta 3 simpang yang di tiap-tiap simpang terdapat tugu bertulisan bahasa Belanda.Suasana sepi penuh sejarah ini sangat minim pengunjunggnya.”Hanya hari-hari besar saja biasanya ramai pengunjung”,ujar Mawardi(47) seorang penjual jajanan keliling asal Sigli.Ia juga menceritakan tentang sejarah Perang Aceh dan asal-usul datangnya Belanda ke Aceh.Pengetahuannya tentang Perang Aceh sangat luas,ia mengaku mengetahui setiap rentetan sejarah Perang Aceh dari buku-buku sejarah yang ia miliki.Setelah bercerita panjang lebar,bapak tua itu mengaku sedih tentang fakta yang berkembang saat ini.Ia sedih karna sangat minim orang-orang yang mengetahui tentang situs sejarah ini,khususnya para pelajar.”Tau sih sedikit,Cuma engga pernah pergi”,jawaban singkat salah satu pelanggan Mawardi,ketika hendak membeli jajanan.Mawardi sangat mengharapkan perhatian dari setiap kalangan tentang situs bersejarah ini,karna makam ini merupakan makam serdadu Belanda terluas di dunia.Mawardi yang telah berjualan selama 2 tahun di ujung jalan makam ini juga mengaku tentang kurangnya perawatan situs sejarah tsb.”Itu kan baru 2 minggu kemarin di cat,di bersihkan,itu juga karna pemerintah Belanda mau datang berkunjung”,Ujar Mawardi.Namun setelah mengonfirmasi salah satu penjaga makam,Amri,yang telah 17 tahun bertugas,ia membantah pernyataan tersebut,ia mengatakan perawatan dilakukan setiap hari,hanya saja jika ada kerusakan yang berat,ia harus menunggu dana yang berasal dari Stichting Peucut atau Yayasan Dana Peucut dan para donatur negeri Belanda.Yayasan Dana Peucut sendiri berdiri sejak 29 Januari 1976,ketua yayasan pertama bernama Letnan Jendral F.Van Der Veen seorang perwira di Korp Marchaussee yang pernah bertugas di Aceh,karna memang korps itu didirikan di Aceh.

•••

Apapun keadaanya,situs bersejarah ini tidak akan terhapus dari ingatan rakyat aceh.Salah satu bukti rasa kepahlawanan dan kemantapan diri masyarakat Aceh tertulis sebagai sejarah dan terbukti oleh situs sejarah ini.Faktanya,situs bersejarah ini sangat jarang dikunjungi.Karnanya belum diketahui,penyebabnya,kita yang tahu.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s