Hal yang Menyebabkan Indonesia “lari di Tempat”


Ilustrasi|SukaTulis
Ilustrasi|SukaTulis

Perekonomian suatu Negara adalah salah satu tolak ukur dalam mencapai gelar Negara maju atau Negara berkembang.Meskipun negara maju juga direkomendasi dari sumber daya alam, sumber daya manusia, kebijakan luar negeri,pengaruh terhadap negara lain,dan teknologi yang dimilikinya. Hal ini pada akhirnya berpengaruh pada perekonomian suatu bangsa.

Indonesia saat ini hanya menjadi Negara “berkembang” yang tidak bisa maju, padahal jika kita melihat sumber daya alamnya sangat berlimpah,juga sumberdaya manusianya yang tidak kalah dengan Negara lain. Maka dalam hal ini penulis mencoba untuk mengulas beberapa alasan Indonesia tetap “lari di tempat”

Dari segi politik, kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia,baik dalam atau luar negeri,sudah menjadi medan “perang mulut” yang “berepik dan berbudaya”. Pejabat pemerintahan selalu menyalahkan dan menjatuhkan pejabat lain untuk kepentingan golongannya masing-masing, katakanlah Partai Politik, dalam diskusi,mereka hanya saling menyalahkan atau membunuh karakter seseorang dengan menjatuhkan tanggung jawab kepada orang tertentu yang tak semestinya di jatuhkan, tidak ada kerjasama, hanya adu argumen serta instruksi yang berkepanjangan.

Dalam kampanye, setiap parpol selalu membicarakan tentang kemajuan negeri ini,namun dalam pelaksanaannya selalu gagal.Apakah dalam janji-janji politik tersebut tidak dikatakan bahwa mereka bersedia bekerjasama dengan pejabat parpol lain?,di setiap wawancara pers,mereka selalu mendikte kesalahan tanpa pemecahan masalah. Jika dicatat, mungkin lebih banyak yang mengemukakan masalah daripada masalah itu sendiri.

Fakta politik kita lemah, hal ini berdampak pada kebijakan seperti yang dikemukakan di atas,di sini dapat kita lihat bahwa kebijakan luar negeri kita sangat tidak menguntungkan Indonesia atau keputusan yang diambil hanya menguntungkan pihak tertentu. Maka yang terjadi adalah keuntungan yang di peroleh hanya berjangka pendek. Di sisi lain, kebijakan kerjasama luar negeri yang pemerintah kita ambil dalam kontrak perdagangan misalnya,seperti tidak mempercayai masyarakat. Contohnya, impor beras atau komoditi lain yang selalu bergantung pada pasokan impor. Pemerintah memilih untuk terus mengimpor beras dari luar bukannya menaikkan kualitas sumber daya yang ada di dalam negeri. Sedikit berbincang dengan petani, penulis mendapat beberapa pernyataan pada saat petani ini mendistribusi barang dari desa mereka harus berlomba waktu dengan datangnya barang impor, kalau tidak stok penyimpanan penuh dan hasil panen mereka terpaksa di jual murah atau tersimpan dan membusuk. Padahal jarak yang ditempuh sangat jauh dan medan yang dilalui tidak mudah. Kerugian yang besar seringkali didapati oleh petani kita.

Seharusnya dalam menyikapi hal ini,Indonesia harus meningkatkan perkembangan pedesaan, khususnya di sector pertanian, untuk bisa mandiri dalam mencukupi kebutuhan konsumen dalam negeri. Dengan menjalin hubungan desa ke pasar induk yang lebih bagus, pembinaan dan pemantauan yang berkelanjutan, serta infrastruktur yang lebih baik maka tidak menutup kemungkinan, kita bisa mengekspor hasil pertanian kita ke luar negeri,ditambah Indonesia yang dikenal sebagai Negara agrikultur.Namun pemerintah salah jalan,mengambil jalan pintas yang notabene yang merugikan bangsa sendiri. Ini yang menjadikan kita semakin tidak mempunyai daya saing dunia.

Alasan lain mengapa Indonesia tetap “lari di tempat”,karena Indonesia menggunakan paham ekonomi makro, yang merujuk bahwa tingginya tingkat perekonomian dengan tingginya Agregat Expenditure(AE)nya. Sedikit tentang hal ini bahwa AE tersebut ialah penjumlahan faktor produksi, beberapa di antaranya yaitu tingkat konsumsi, investasi dan ekspor netto. Dalam hal ini pemerintah terlalu mementingkan  konsumsi, dalam kebijakan kita sekarang yang diharapkan adalah ketika konsumsi masyarakat meningkat, maka AE meningkat dan tingkat perekonomian juga naik.

Tetapi dalam kenyataannya  konsumsi masyarakat yang dijadikan tolak ukur adalah masyarakat tingkat menengah ke atas, sedang yang masyarakat tingkat rendah tidak terukur konsumsinya akibatnya kesalahan perhitungan terjadi. Seperti ini, memang masyarakat tingkat menengah ke atas mempunyai konsumsi yang tinggi, tetapi masyarakat Indonesia mayoritas masih di bawah taraf menengah bisa di bilang 70 : 30 dengan menengah ke atas sehingga seharusnya taraf konsumsi kita di bawah rata-rata. “Cacat” dalam sistem ekonomi makro adalah tidak bisa memprediksi dan memberikan solusi untuk masalah ekonomi jangka panjang, yang diperhitungkan hanyalah keuntungan jangka pendek.

Solusi dari permasalahan kebijakan ekonomi kita ialah dengan menerapkan sistem ekonomi islam, yaitu sistem zakat.Dengan sistem zakat, masyarakat yang taraf rendah memperoleh modal usaha, yang menaikkan faktor produksi bukan hanya konsumsi tetapi investasi juga dinaikkan, karena setiap masyarakat memiliki modal (invest) dan akan menaikkan AE-nya. Serta jika setiap modal yang diberikan tetap bisa mencukupi kebutuhan masyarakat hingga masyarakat mandiri, maka cepat atau lambat perekonomian kita akan kuat.

Alfyandi adalah mahasiswa fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB)
Sangat tertarik dalam dunia tulis-menulis

Sahabat Sukatulis.wp.com

One thought on “Hal yang Menyebabkan Indonesia “lari di Tempat””

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s