Tidak Hanya Lulus Belaka


Ilustrasi | Sukatulis
Ilustrasi | Sukatulis

Kembali Universitas Jantoeng Hatee Rakyat  Aceh wisudakan mahasiswa-mahasiswa terbaik dalam memenuhi dan menyempurnakan bangsa, khususnya Aceh. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang dicapai juga sangat memuaskan, mahasiswa yang sangat memuaskan dan terpuji (Cumlaude) mendominasi persentase nilai kelulusan ketimbang memuaskan. Pendidikan yang ditempuh selama sekian tahun dibayar lunas oleh kegigihan dan kecakapan selama menjadi peserta didik, di temani keluarga serta kerabat, juga baju toga khas wisudawan, ini adalah hari yang paling sempurna dalam hidup.

Adalah impian setiap mahasiswa dapat lulus dengan nilai terbaik, di dampingi keluarga dan kerabat dekat. Puji-pujian dan bersuka-suka, karna telah berhasil menaklukan segala badai yang menyebabkan nestapa –selama menjadi mahasiswa. Bukanlah hal yang mudah mengatur waktu antara kegiatan satu dan yang lain. Diperlukan ketepatan dan kelugesan berfikir untuk mengatur setiap waktu yang ada. Oleh sebab, itu hari yang ditunggu-tunggu –jika datang serasa tak ingin usai.

Hal yang harus dimengerti akan persepsi kelulusan adalah mahasiswa yang tidak hanya meraih IPK yang membubung, namun kecakapan keterampilan, juga harus diprioritaskan. Dengan cara yang sederhana, seperti aktif di organisasi, atau mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang keterampilan, hal tersebut mampu mengasah keterampilan seorang mahasiswa secara efektif dan efisien.

Sangat disayangkan mahasiswa yang hanya mengejar nilai akademis, tanpa menghiraukan pengembangan pikiran yang seharusnya dipapah dengan pembekalan keterampilan.Namun yang lebih disayangkan lagi, bagi mahasiswa yang mempraktekkan Sistem Kebut Semalam, populer disingkat SKS. Ketika musim midterm dan final, para pengguna SKS sibuk menghafal, membuat contekan, bahkan begadang agar hafalannya maksimal. Walau memperoleh IPK 4,00, jika diperoleh dengan Sistem Kebut Semalam, sangat berbahaya. Karna efek buruknya juga dirasakan oleh masyarakat.

“Penyakit” yang meradang pada mahasiswa-mahasiswa itu diduga disebabkan oleh pemahaman tentang perguruan tinggi yang keliru. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa mahasiswa adalah benteng bangsa, agent of change, penerus dan pengambil kebikajakan di masa yang akan datang. Amat disayangkan jika bangsa ini tidak pernah maju, bahkan mundur akibat mahasiswa-mahasiswa yang kurang memperhatikan visi dan misi Perguruan Tinggi, juga Tri Darma Perguruan Tinggi.

Oleh sebab itu diperlukan kesadaran yang menyeluruh, dengan cara penyeluhan dan pembekalan nilai keterampilan secara berkala –walau tidak memulihkan kesadaran mahasiswa secara dini dan signifikan –namun langkah tersebut patut dicoba untuk mengembalikan wajah mahasiswa juga menghilangkan kekhawatiran masyarakat tentang persepsi negatif terhadap mahasiswa.

Dengan begitu, mahasiswa yang diradang “penyakit” sembuh dan kembali menjalani masa pendidikan dengan sehat dan semangat. Tentu akan menjadi perubahan yang sangat signifikan bagi bangsa, khususnya Aceh. Mahasiswa kini lebih memahami arti perjuangan selama menjadi peserta didik. Menjunjung tinggi Tri Darma Perguruan Tinggi dan lebih memahami pentingnya kecerdesan intelektual juga keterampilan pada setiap mahasiswa Indonesia.

Sangat mungkin mahasiswa-mahasiswa tersebut melahirkan inovasi dan ide-ide yang lebih baik lagi. Mengubah dan memaksimalkan segala paradigma yang berada disekitarnya. Mengubah hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak dan mungkin digunakan. Sampai pada keadaan-keadaan yang genting, mampu diatasi.

Pengembangan diri seperti itu tentu memerlukan pendamping yang bersifat obyektif dan mandiri. Betapa tidak, mahasiswa yang sedang melakukan pengembangan diri memerlukan contoh nyata dalam kehidupannya.Saat-saat seperti itulah peran pendamping diperlukan, pendamping yang baik tidak harus orang tua. Teman dekat atau saudara juga dapat menjadi pendamping. Namun berbicara mahasiswa yang bersifat umum –harus didampingi oleh pendamping yang umum juga.  Seperti Bagian Kemahasiswaan dan Instansi-Instansi yang bergerak dalam bidang sosial, politik, dsb.

Barulah mahasiswa sempurna dan saling menyempurnakan, kecacatan disana-sini yang baru hilang apabila mahasiswa itu ingin menghilangkannya, adalah kemauan yang tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun, termasuk orangtua mahasiswa yang bersangkutan.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s