Cemerlang Lingkar Pena


Dari kanan ke kiri ; Tere Liye, M. Nazar, Rh Fitriadi, Doc DETaK Unsyiah, foto : Mirza DETaK

Sudah beberapa hari yang lalu, isu benar yang sedang direncanakan telah kuterima sayup-sayup. Tidak ku sengaja, sejatinya, kehadiranku yang didampingi oleh rekan saat itu hanya ingin duduk sharing membicarakan rundown acara yang akan kami selenggarakan. “Pelatihan Menulis Cerpen” merupakan kegiatan yang akan kami selenggarakan. Sebelum membicarakan rundown acara itu, Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh sedang rapat membicarakan acara launching dan diskusi membahas novel karya Rh. Fitriadi yang juga anggota dari FLP Aceh.

Dipenghujung rapat, aku dan teman-teman hadir, seperti menggangu aktifitas mereka, sekali-kali ucapan maaf kami alamatkan kepada pemimpin rapat, berulangkali, sampai raut wajah sang pemimpin rapat keriput-keriput, tak sanggup lagi mejawab,” Ya gak apa-apa, gk terganggu kok”, jawabnya yang saban waktu berubah nadanya. Duduk sekiranya lima menit, sebelum rapat dibubarkan. Sebagian besar waktu ku gunakan untuk melihat lekatan-lekatan persegi bertulisan, bergambar, dan berwujud takjub di dinding.

Selesai juga, saatnya mengambil laptop dari tempat persembunyiannya, mengutarakan segala pendapat juga rancangan yang menurutku sudah sempurna kepada Dara, begitu mereka memanggilnya. Tak henti, silih berganti, silat lidah antara kubu ku dan mereka tak kunjung usai, semua yang kami lakukan untuk memaksimalkan acara yang sudah disepakati tiga minggu yang lalu. Terkadang sampai pada titik jenuh, pada dasarnya adalah pilihan, namun kami menganggapnya sebagai titik jenuh.

Sekurangnya tiga jam, kesimpulan ditemukan dan sifatnya lebih mengikat, seperti putusan Mahkamah Konstitusi (MK), ”Seperti MK saja, mengikat,” Guyon Riki, salah seorang rekan yang menemaniku. Dalam perjalan pulang, aku terus memikirkan rapat yang mereka adakan tadi, yang aku ketahui hanya selapis, dan selapis pengetahuan yang ada pada ku sama saja dengan teman yang ikut “menguping” pesan-pesan dalam rapat tadi. Lantas beberapa hari berlalu, semua mengalir begitu saja.

***

Sampai pada hari yang paling ku tunggu juga paling kutakuti, betapa tidak, ini kali pertama aku harus menyampaikan sepatah-dua patah kata dalam sesi “Kata Sambutan dari ketua panitia”. Gejolak bergelembung sampai ke permukaan, ditambah kerjaan ringan mempersiapkan sekaligus menyempurnakan dekor ruangan yang sebenarnya belum disiapkan sama sekali. Sepagi mungkin, bahkan aku yang lebih dahulu “berkukuk” sebelum ayam jantan tetangga terbangun heran, ”Siapa yang mengalahkanku bangun pagi?”.

Menurutku mustahil, apabila kedua bola mataku terbuka dengan sendirinya, harus ada pemandu, seperti jam baker, atau alarm HP, terkadang pesan gratis yang kuhabiskan semalam untuk meminta temanku membangunkan ku bangun pagi. Lekas berkemas dan segera pergi dari hangatnya tempat tidur dan aroma teh pagi itu. Kendaraan merah bermotor ku kendarai dengan jantan, sampai lah aku di tempat yang masih tidak ada orangnya, tentu, aku masih di Bumi. Tepatnya di gedung Gelanggang Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Doa yang ku panjatkan semalam, yaitu demi kesuksesan acara pada hari ini, layaknya memohon ampun seakan-akan telah melakukan perbuatan dosa seberat dunia atau seluas angkasa. Selalu meyakinkan diri, terkadang meluangkan waktu berbicara sendiri, saat berjalan, didalam kamar mandi, dan tempat sunyi lainnya. Setelah mantap menyempurnakan dekor ruangan, memasang proyektor, meja, kursi, dan lain sebagainya. Napas ku tarik dalam-dalam, lalu duduk manis tepat disamping MC, senyum tawar disanding rasa malu karna keringat saat itu telah mencuat keluar ke permukaan kulit sao matang.

Giliranku menuju mimbar, khasnya seorang MC saat itu tak lagi ku hiraukan, sama saja bagiku, namun pesan yang disampaikannya kali ini sedikit berbeda, terselip namaku, MC tersebut memaksaku melangkahkan kaki dan mengeluarkan suara tampan saat itu. Seraya berjalan menuju mimbar mulut ku terus terbitkan senyum yang kemungkinan besar tidak simetris. Suara tampan yang diharapkan oleh MC tadi tidak terpenuhi, sengau, kecil dan tidak efektif, seperti itu kira-kira suara “tampan” yang ku keluarkan, tidak ku sengaja, namun seperti itulah adanya.

Setelah memberi beberapa patah kata, surut-surut langkah ku untuk kembali menuju meja panjang tempat elit acara dipersilahkan duduk. Secarik kertas berisi kata sambutan kini telah lusuh, lembek karna menyerap keringat di tangannku. Giliranku habis, kini aku bisa bersantai untuk sekedar duduk di luar ruangan berusaha untuk menenangkan diri dari tuntutan suara tampan tadi. Tenang, nada bicaraku kembali normal, keringat telah berhenti di produksi, saat itu aku “kembali” menjadi aku yang sebenarnya.

Jarum panjang dan pendek yang merupakan “organ” dari jam tangan terus berputar, setiap rentetan acara sempurna dikerjakan. Alhamdulillah, acara hari itu berhasil digelar, sejumput bangga dan rasa haru, menyelimuti suasana lelah dan penat selama acara berlangsung.Keberlangsungan acara itu sendiri di sempurnakan oleh teman-teman yang pantang menyerah dan cemerlangnya ide-ide dalam memecahkan masalah yang muncul, dipecahkan begitu saja, no mercy.

Waktu terus berputar, pengalaman yang ku dapat selama mempersiapkan acara cukup mampu untuk menyempurnakan acara yang akan datang. Tingkat kebersamaan juga terus meningkat, seakan keluarga besar di dunia perantauan. Kadar percaya diriku juga semakin menjamur, tidak lagi mental tempe, setidaknya sudah beranjak ke teriplek tipis 3mm.

***

Pembicaraan yang kudengarkan tempo lalu semakin mendekati hari jadinya. Surat telah dikirim dan tiket untuk mengikuti acara juga melengkapi amplop putih besar itu. Aku mendapatinya telah terbuka, ternyata seseorang yang menemukan amplop berisi undangan ini sudah membukanya lebih awal. Jelang satu hari sebelum acara digelar, pendataan untuk peserta yang hadir dari organisasi yang ku geluti dimulai, maksimal 10 orang.

Kata Sambutan sekaligus membuka acara oleh Wakil Walikota Banda Aceh, Doc DETaK Unsyiah, Foto : Mirza DETaK

Sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu, dalam surat undangan tertulis acara akan dimulai pukul 08.00, secepat kilat aku berkemas dan langsung meradang di salah satu tempat parkir gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Banda Aceh. Kuhubungi teman-teman, berniat untuk masuk kedalam gedung bersama-sama, ternyata mereka sudah hadir sejak tadi, aku terlambat.

Acara dimulai, sangat meriah, didalam ruangan seluas setengah lapangan sepakbola, tidak kurang dari 160 orang memadati bangunan yang sudah berusia empat tahun itu, suhu rendah yang di tekan oleh AC membuat rasa sejuk yang sedikit berlebihan. Tidak terlalu riuh, semua tertata rapi, pengunjung didominasi oleh perempuan, hanya sekian persen laki-laki yang hadir. Aku bersama Riki duduk di baris ketiga dari depan, alasan riki untuk duduk didepan untuk memudahkan ia dalam bertanya dan menyaksikan seperangkat acara spektakuler itu, namun di setiap sesi pertanyaan, tidak sepersen suara pun lahir dari lidahnya.

Yang hadir didalam acara tersebut antara lain Wagub Aceh, Wakil Walikota Banda Aceh, novelis asal Palembang, Tere Liye, dan Rh. Fitriadi, penulis novel “Maruah diujung Bara”. Dalam rangkaian acara, para tamu dan pengunjung disuguhi tari khas Aceh, seperti Tari Rapai Geleng yang di bawakan oleh Lasqi, sungguh indah dan menawan. Jarang – jarang aku dapat menyaksikan tari seperti itu. Penari yang mengenakan kain songket khas Aceh, membawa rebana, biasanya jumlah dara yang menari adalah 10-12 orang dan dipandu oleh seorang Syahi.

Tari Rapa'i Geleng oleh Lasqi, Doc DETaK Unsyiah, foto : Mirza DETaK
Tari Rapa'i Geleng oleh Lasqi, Doc DETaK Unsyiah, foto : Mirza DETaK

Acara terus bergulir, kata sambutan oleh Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, segar dan sedikit jenaka, dalam kata-katanya ia menyelipkan plesetan-plesetan yang membuat perut terkocok, tertawa terkadang serius. Lalu dilanjutkan dengan memutar video profil FLP Aceh dan lain sebagainya, sedikit terkejut dan mengguncang emosi ketika video zaman referendum dulu di bumi Serambi Mekah, sekurangnya dua juta orang membanjiri Koetaradja, hal yang mungkin tidak akan pernah bisa terulang.

Lantas launching dan diskusi membahas novel “Maruah diujung Bara” selesai. Sejarah yang mungkin tidak akan pernah saya ketahui dikupas habis dalam diskusi tersebut. Kemelut bumi Aceh saat itu, pilihan yang harus diputuskan dengan cekat dan cerdas, sulit menggambarkan seratus persen “rekaman” tempo dulu, Rh. Fitriadi berhasil menggambarkannya dalam buku setebal tiga ratusan halaman itu.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s