Hitam Legam Kopi Robusta


Ilustrasi

Hangatnya kopi hitam masih terasa di bibir cangkir oval yang dialasi cawan putih, aromanya juga masih kental bersemat di rongga hidung. Saat itu, aku dan beberapa rekan Jeunerob masih berhasrat untuk berdiskusi ringan disalah satu warung kopi Darussalam. Pada awalnya, diskusi berlangsung kidmat di taman perpustakaan Universitas Syiah Kuala, 18 muda-mudi Aceh dari berbagai latar belakang pendidikan menjewantahkan pikiran-pikiran mereka dalam kemelut diskusi saat itu, (8/4/2012).

Diskusi dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan usai pukul 16.00 WIB. Semangat untuk menulis sangat terasa dalam hangatnya diskusi, Jeunerob yang akan genap berusia satu tahun pada tanggal 15 April mendatang merupakan wadah yang menjadi tolok-ukur –betapa kuat semangat menulis muda-mudi Aceh. Diskusi rutin yang mereka gelar setiap minggu siang itu mampu mengasah keterampilan menulis, komunitas yang anggotanya hampir mencapai 50 orang itu juga akan dilegalkan oleh Dinas Kebudayaan dalam waktu dekat ini.

Kini legamnya kopi hitam khas Aceh itu sudah kandas di cangkir bertangkai lekung. Namun, Aku, Sayed Jamaluddin, Sammy Khalifa, dan Rahmat Taufik masih asyik meretas ide-ide brilian untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Tak khayal ketika menorehkan ide diatas meja, lelucon segar muncul kepermukaan. Gelak tawa masih sangat efektif untuk mencairkan suasana.

Lidah masih bergoyang dan riuh masih berdendang,  aku dan beberapa rekan yang terhanyut dalam lautan tawa seyogyanya terperenjat dari kursi merah berkaki empat itu. Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh turun dari kendaraan roda empatnya, masuk keberanda warung kopi, Dek Mie/ Cek Yuke, Taufiq Kopi 3, Darussalam. Ia duduk tepat dihadapan kami, meja sebelah yang digabung menjadi deretan meja panjang. Hadirnya kedua orang itu mampu mengubah hulu pembicaraan kami.

“Nyan peu i kampanye? (Apa mereka berkampanye?),” bisik Sayed. “Bukan, mereka diluar dari calon walikota dan wakil walikota, saat ini merekas sebatas warga negara Indonesia biasa,” balas ku berbisik. Diskusi terus mengalir, kamera diaktifkan untuk mengabadikan momen itu. Reja Hidayat yang telat hadir langsung merogoh kantong dan mengeluarkan kamera pocket dari persugihannya. Layaknya Paparazzi, ia menyelipkan kamera pocket disela-sela botol dan gelas di atas meja mencuri gambar bagus Mawardi dan Illiza.

Pasangan calon walikota Banda Aceh itu syahdu berkata-kata dalam keramaian. Seorang pelayan menghampiri deretan meja panjang itu dan mulai menggoyangkan pena menuliskan pesanan para pelanggan supernya itu. Beberapa gelas kopi, teh hangat, teh botol, dan sanger panas meradang dipermukaan kertas yang dipegang pelayan itu. Illiza meneguk teh hangat, sedang Mawardi kopi hitam. Larutan bewarna itu dibarengi dengan beberapa piring kue kering, roti isi dan kue isi, kepulan asap rokok juga masih menjadi miniatur kabut di langit-langit bangunan seluas dua kali lapangan tenis itu.

Hanya satu jam mereka bersandar di kursi merah itu, mobil silver dengan corak stiker modern dinyalakan. Seorang pemuda membuka pintu mobil untuk Illiza, ia masuk dan pergi meninggalkan ladang parkir warung kopi itu. Air pesanannya tidak habis diminum, masih ada beberapa teguk lagi dalam cangkir bundar itu. Sekali lagi pelayan dengan genggaman kertas putih merapat ke meja panjang tempat cangkir-cangkir masih berserakan. Ia menoleh dan menghitung berapa kue yang dihabiskan sekaligus membersihkan meja dari air yang tumpah.

Pelayan itu tiba-tiba menghampiri meja kami, “Nyo manteng yang neu pesan buno bg? (Hanya ini yang anda pesan?), tanya pelayan itu mencatat, “Ya, pakeun bg? (Ya, mengapa bang?), jawab ku heran. “Nyo i bayeu mesigeu bg (Sekalian dibayar bang),” jawabnya datar. Ternyata semua pesanan pelanggan saat itu dibayar sekalian dengan pesanan Illiza dan Mawardi. Sekali lagi gelak tawa meruah dalam senja saat itu.

Lamat-lamat, toa mesjid dinyalakan untuk lantunan ayat suci alquran. Matahari semakin tenggelam di horizon tanah 1001 sultan. Aku dan teman-teman pulang untuk menunaikan shalat magrip petang itu.

ILustrasi

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s