Berkelah di Tanah Deli


Para peserta Salam Ulos 2012 menumpangi kapal penumpang Lopo Parindo

KAPAL PENUMPANG Lopo Parindo seakan terbalik ketika berenang dari Parapat menuju Pulau Samosir, akhir September lalu. Hembus angin kencang ditambah gelombang relatif tinggi memaksa nahkoda merangkakkan kapal ayal. Puluhan orang yang menumpangi kapal itu buncah ketika lambung kapal dihantam ombak tanpa henti. Ada yang berteriak, masam muka, juga tak acuh dengan keadaan.

Kapal itu berlantai dua, lengkap dengan puluhan kedera yang senyawa dengan lantai. Toilet hanya ada di lantai 1, ruang nahkoda bekerja di muka kapal. Sedang tempat favorit para pelancong adalah buritan lantai dua, bangku dilekatkan dengan lantai dan dinding kapal, setengah tanpa atap. Hingga hamparan bukit Samosir dan biru air Danau Toba dapat dinikmati para penumpang sepuas-puasnya.

Dari Parapat, Samosir terasa begitu dekat. Bahkan tulisan “Horas Samosir” di sisi timur pulau itu terlihat jelas. Tulisan itu tak ubahnya pohon-pohon yang disusun sedemikian rupa oleh penduduk setempat untuk menyapa para petandang.

Lopo Parindo akhirnya bersandar di dermaga Tomok siang tanggung setelah satu jam mengarungi perairan Danau Toba, Parapat-Samosir. Di dermaga, Parlindungan Situmorang, salah seorang guide asli Samosir sudah menunggu 10 Menit.

“Horas,” sapanya.

Puluhan penumpang yang tergopoh saat turun dari kapal seakan tersihir oleh Parlin, sapaan guide tersebut.

“Horas,” sahut penumpang serentak.

Kala itu, yang meramaikan Lopo Parindo adalah mahasiswa pegiat pers se-Indonesia, diantaranya; Aceh, Riau, Medan, Yogyakarta, Bali, dan Makassar. Mereka yang lulus seleksi akan diberi kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Andreas Harsono dan Chik Rini di Parapat selama lima hari.

Parlin sudah 17 tahun bekerja sebagai pemandu lepas, ia begitu ulung menjelaskan desa Tomok kepada kami. Kami melanglang seisi desa sebelum bertandang di salah-tiga situs sejarah Pulau Samosir; Sigale-gale, Makam para raja, dan museum Batak.

Sigale-gale

Puluhan kedai yang menyajikan buah tangan khas batak berjajar di sisi kiri-kanan jalan, mengular dari dermaga Tomok sampai manoktor Sigale-gale. Dari pahatan kayu sampai pintalan benang dijual. Ada miniatur rumah Bolon, Sortali, selendang sutra, kain Ulos gantungan kunci, dan  baju bertuliskan ‘Lake Toba’ yang memenuhi dinding-dinding kedai.

Namun, rumah Bolon yang selokasi dengan Patung Sigale-gale bukanlah replika. Rumah panggung seluas lapangan tenis itu sudah berusia lebih dari 300 tahun. Mengeratkan pondasi dan pelafon bukanlah dengan paku, “Tidak ada satu paku pun yang tertancap di rumah itu, para sesepuh menggunakan pasak” jelas Parlin.

Rumah Bolon

Areal seluas setengah lapangan sepak bola itu dipadati oleh empat rumah khas Batak, satu kios kecil dan beberapa rumah penduduk asli. Rumah Bolon adalah konstruksi terbesar diantara bangunan yang lain. Bolon dalam bahasa batak berarti besar, wajar saja rumah itu mampu menampung  lima keluarga sekaligus.

Konon rumah Bolon hanya ditempati para raja. Ada 13 kerajaan yang bergantian menempati rumah Bolon, yaitu Tuan Ranjinman, Tuan Nagaraja, Tuan Batiran, Tuan Bakkaraja, Tuan Baringin, Tuan Bonabatu, Tuan Rajaulan, Tuan Atian, Tuan Hormabulan, Tuan Raondop, Tuan Rahalim, Tuan Karel Tanjung, dan Tuan Mogang

Konstruksi rumah terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk, didesain panggung. Ornamen yang mengitari Rumah Bolon disebut gorga paduan tiga warna; putih, hitam, dan merah. Filosofi dari ketiga warna itu adalah manusia akan melwati tiga dunia; dunia kandungan, dunia (Bumi), dan dunia akhirat. Di muka rumah juga dilekatkan Jagah Dopah, ukiran kayu yang dipercaya oleh suku batak dapat menangkal ilmu hitam, “Penjaga seisi rumah.”

Atap yang lancip mencuat di muka dan punggung rumah, uniknya, atap bagian belakang  lebih tinggi 95 Sentimeter daripada di depan. “Itu menandakan, orang tua itu tingkatnya lebih tinggi dari pada anak-anaknya, anak-anak harus selalu menghormati orangtuanya,” ungkap Parlin.

Pintu masuk Rumah Bolon tergolong sempit, kurang dari satu meter. Pintu itu tersembunyi dibalik dinding sisi depan rumah, untuk menggapainya, ada enam anak tangga yang harus dipanjat. Arsitek kuno Simalungun sengaja merancang pintu rumah seperti itu, maksudnya sibaba ni aporit (menghormati pemilik rumah), “Filosofinya harus sopan jika berkunjung,” lanjut Parlin.

Sementara itu, patung Sigale-gale tepat berada di depan rumah Bolon. Pada masa kerajaan, ada seorang Tuan yang kaya raya, ialah Tuan Rahad. Ia hanya memiliki satu orang anak, Si Manggale namanya, putra semata wayang sang raja. Ketika Si Manggale meranjak dewasa, Tuan Rahad berkeinginan agar cepat punya mantu. Sayang, Si Manggale tewas di medan tempur. Tuan Rahad bermuram durja mendengar kabar itu, ia jatuh sakit sampai sekarat.

Lantas untuk mengurangi kesedihan sang raja, para pesuruh Tuan Rahad berinisiatif menciptakan sebuah patung replika Si Manggale. Tingginya kurang lebih satu meter, sandang yang disematkan juga khas batak, selendang ulos, dan ikat kepala tiga warna; merah, putih, dan hitam. Ia bertumpu di Sopo Balian, sekaligus tempat patung itu disimpan.

Patung itu diberi nama Sigalegale, secara etimologi berarti lemah gemulai. Sejak pertama kali dibentuk, Sigalegale dimainkan oleh seorang dalang, langkah kerjanya, dalang akan berkomat-kamit membaca mantra agar roh merasuk ke patung, lalu patung akan menari tanpa disentuh dalang. Pertunjukan Sigale-gale dengan satu dalang terakhir kali dipertunjukkan pada festival sigale-gale di Pematang Siantar, oleh Raja Gayus Rumahorbo dari kampung Garoga pada tahun 1930.

Patung Sigale-gale

Sekarang, patung Sigale-gale harus dipasang tali agar ia mampu menari, dalangnya sudah lebih dari satu. Semakin lihai sang dalang mengatur ketegangan tali, lentur tubuh Sigale-gale  terasa akan lebih padu dengan musik. Lagu latar yang dimainkan juga diambil alih oleh kaset lengkap dengan pemutar musiknya, bukan ketukan atau petikan langsung alat musik khas Batak.

Penonton diperbolehkan menari bersama Sigale-gale, ketika hendak menari, penonton haruslah mengenakan selendang ulos. Gerakan tari Sigale-gale juga tidak terlalu rumit, buka lebar telapak tangan, lalu ayunkan keatas dan kebawah, sambil mengikuti irama musik, gerakan lainnya dengan bertindih dan menggerakkan bahu, gerakan ini biasanya ditampilkan berhadap-hadapan dengan teman perempuan, “Disitulah letak romantisnya.”

Puas berbuaibuai bersama Sigale-gale dan mengecap sejarah singkat tentang Rumah Bolon. Parlindungan Situmorang melanjutkan langlangnya ke makam para raja.

 

Makam Para Raja

Jarak makam para raja dan rumah Bolon  lima menit berjalan kaki. “Pemakaman ini usianya kurang lebih 700 tahun,” ujar Parlin. Di pemakaman itu dimakamkan raja-raja keturunan Sidabutar, seperti Op Soibutu Sidabutar, raja kedua marga Sidabutar. Gerbang masuk makam para raja dipahat ornamen khas batak, seperti cicak, “Maksudnya, orang batak itu ada dimana-mana diseluruh Indonesia, dapat hidup dimana-mana.”

Sembilan makam tersua disitu, sedang makam yang paling besar adalah Op Soibutu Sidabutar, panjangnya sekira tiga meter dengan lebar satu meter. Konon sang penghuni makam itu tidak dikuburkan, ia hanya direbahkan didalam batu yang terpahat rumit. Bagian depan kuburan dipahat raut wajah sang empunya, “Mirip 99,99 persen,” tegas Parlin.

Makam Op Soibutu Sidabutar

Parlin berdiri di depan makam Op Soibutu Sidabutar saat menerangkan sekilas tentang makam para raja. Ia menyudahi penjelasan dengan guyonan, “yang percaya tidak percaya itulah adanya.” Ia menjelaskan bahwa barang siapa yang mencari jodoh, hendaklah mencium makam sang Opung,” Kalau percaya silahkan dicium, kalau seram silahkan kita ke museum Batak.”

Museum Batak

Sigale-gale, makam para raja, dan museum Batak diwakili oleh satu badan jalan. Terhubung dari pasar ramai desa Tomok, para pelancong tidak akan kesulitan mencari tiga tempat istimewa ini, ada papan petunjuk yang bertengger di papan-papan kayu.

Museum Batak

Wujud museum batak serupa rumah Bolon, hanya sedikit lebih kecil, ditambah arsitek modern dipunggung rumah. Rumah panggung itu berjarak tiga menit jika berjalan dari makam para raja. Dalam makam itu tampak berbagai macam artefak khas batak, mulai dari tempat tidur raja sampai senjata khas batak lengkap di museum itu, ada pula kalender kerbau, alat musik khas batak, kerajinan khas batak dan masih banyak lagi.

Artefak Suku Batak

“Pernah ada orang yang ingin membeli tempat tidur raja itu 1,4 Miliar, tapi tak dijual, terlalu berharga itu,” kata Parlin mengakhiri perjalanan.[]

Oleh : Iqbal Perdana | Admin/Author Suka Tulis

6 thoughts on “Berkelah di Tanah Deli”

  1. Alkisah ada seorang Raja yang kaya dan berkuasa bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat disayanginya, Manggale namanya. Suatu ketika, ketika terjadi perang, sang Raja turut mengirim anaknya untuk ikut berperang melawan musuh. Sayang, takdir berbicara lain, anak laki-laki yang disayanginya tersebut tewas dalam peperangan. Perasaan terlalu sayang dan kangen anak semata wayangnya ini membuat sang Raja menjadi sangat sedih. Alhasil, sang Raja pun jatuh sakit. Dalam proses penyembuhannya, seluruh tabib di penjuru kerajaan dipanggil untuk menyembuhkan sang Raja. Seorang tabib mengatakan bahwa sang Raja sakit rindu. Oleh karena itu, ia meminta kepada penasehat kerajaan untuk memahat sebuah kayu yang menyerupai wajah Manggale. Namun sang Raja berpesan agar patung tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di Sopo Balian (rumah-rumahan yang berada di tengah sawah). Pada saat upacara kematian, patung tersebut dijemput untuk menari di samping jenazah Manggale. Dalam upacara kematian Manggale, sang tabib memanggil roh Manggale dan dimasukkan ke dalam boneka yang dipahat menyerupai wajah Manggale tersebut. Demikianlah boneka kayu yang dipahat dari pohon nangka tersebut manortor selama 7 hari 7 malam dengan iringan musik Batak Toba yakni Sordam dan Gondang Sabangunan.

    Suka

  2. Rumah adat Batak dirangcang dengan filosofi yang unik. Bentuk atap menunjukkan sikap menyembah (marsomba) sedangkan pintu kecil yang terdapat di rumah adat dimaksudkan supaya siapapun yang datang berkunjung haruslah terlebih dahulu memberi hormat kepada yang punya rumah. Sampai sekarang rumah adat ini masih didiami oleh keturunan raja Sidabutar yang kalau jaman sekarang diposisikan sebagai pemangku adat. Raja Sidabutar merupakan pemimpin yang berkuasa di wilayah Tomok dan sekitarnya. Pada saat terjadi perang pergilah anak dari raja Sidbutar untuk berperang. Akan tetapi anak terebut mati. Mendengar hal tersebut Raja Sidabutar menjadi stress dan gila, karena anak tersebut merupakan anak semata wayang. Berbagai keahlian dari dukun sudah dikerahkan akan tetapi tidak membuahkan hasil bagi kesembuhan sang Raja. Maka dibuatlah patung yang menyerupai anak raja ini dan dimintalah para dukun untuk memanggil roh anak tersebut sehingga patung tersebut dapat menari-nari. Patung inilah yang kemudian di sebut Sigalegale. Hal ini terus berulang kali dilakukan setiap penyakit raja Sidabutar kembali kambuh. Keberadaaan patung tersebut kini sudah tidak diketahui lagi, dan saat ini yang masih ada di halaman rumah adat adalah patung yang digerakkan oleh kendali teknologi seperti halnya wayang. Pengunjung dapat melihat patung tersebut menari-nari dengan memberikan sumbangan sukarela sebesar 60 ribu rupiah.

    Suka

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s