Emas London Sigale-gale


Sigale-gale

Setelah puas melanglang seisi Samosir (Baca: Berkelah di Tanah Deli), Parlin Situmorang si Guide juga bercerita kisah asmaranya yang berbuntut perpisahan. Celotehnya di bidang roman tak kalah taji jika dibandingkan dengan cerita Sigale-gale yang ia ceritakan puluhan kali kepada tamu yang datang. Emas London Sigale-gale…

•••

Garry paham betul kebudayaan suku Batak, ia tahu persis filosofi dari partuturan, mamayu hayuning bawono, boroni raja, hagabeon, hamoraon, hasang apon, dan masih banyak lagi. Hingga tak khayal peneliti asal Inggris itu sudah berkali-kali bertolak dari London-Medan-London-Medan.

Universitas Leicester lah yang mengehendaki keberangkatan Garry. Selain Suku Batak, Garry tidak pernah menyelami suku lain dari seluruh dunia secara langsung, ini adalah pengalaman pertama Garry mendalami suatu suku sekaligus pertama kali menapakkan kaki di bumi Batak, bumi yang konon ia juluki a great spilled Spirit .

”Pertama datang kemari, dia (Garry -red) datang berdua sama si bule cewek,” ingat Parlindungan Situmorang. Garry dan rekan perempuannya membelah permukaan Danau Toba dengan SpeedBoat, beranjakdari salah satu dermaga menuju pulau yang mencuat tinggi di tengah-tengah Danau seluas 113.000 Hektar, Pulau Samosir

Saat itu, Parlindungan Situmorang yang akrab disapa Parlin tak begitu tokcer berceloteh Inggris, ia hanya mampu menyapa, menanyakan nama, dan ingin apa. Sebaliknya, Garry dan seorang perempuan berambut pirang itu kurang ahli berceloteh Indonesia, ”Bahasa Indonesia mereka lebih buruk daripada Bahasa Inggris ku,” jelas Parlin.

Dipilihlah bahasa tubuh yang gemulai itu, seperti, hendak mencari penginapan, Garry mengadu tangan dan menyandarkan ke kepala sebelah kanan, hendak makan, Garry berakting seakan-akan memegang sendok dan menyerok makanan ke mulutnya. Bahasa alternatif itu sangat membantu mereka berkomunikasi, relatif lama, sedikit lebih satu tahun.

Pekerjaan Parlin sebagai pemandu berubah menjadi persahabatan setelah memasuki tahun ke tiga. Keakraban mereka semakin kental ketika Parlin dengan fasihnya mengartikan percakapan Garry kepada petinggi desa yang sedang diwawancara.

Garry biasa beratap di Hotel Simanindo, ”Tahun 1988 hotel itu cuma punya tiga kamar, satu kamar dipake Garry dan kawannya, satu kamar kosong, satu lagi kosong.”

Setelah mengumpulkan data selama empat tahun, Garry bertolak ke London. Baru pada tahun 1995, Garry kembali ke Tanah Deli bersama 31 rekan lainnya, lima hotel dibooking, enam mobil ‘dipaksakan’ ada oleh Parlin, maklum, pulau dengan 117 desa itu tidak banyak roda empatnya.

Kali ini Garry memboyong lebih banyak rekan perempuan, salah satunya Dilia. Dilia adalah perempuan berbaya 23 tahun dengan surai keemasan. Tubuhnya semampai dengan senyum yang simetris. Parlin terperangah ketika betis perut padi itu melangkah dari sampan mesin yang ditumpangi wanita itu, ”Cantik kali orang itu,” seru Parlin.

Lantas kinerja Parlin meningkat drastis oleh kehadiran Dilia, ia menjemput lebih awal, senyum lebih banyak, suara semakin besar, dan semangat yang menggebu-gebu. Puluhan bule yang hadir itu tidak mengerjakan proyek penelitian, mereka tak ubahnya pengunjung yang hendak mencuri keindahan Samosir sekaligus menjadi tamu spesial Parlindungan Situmorang.

Setiap malam mereka bernyanyi mengalahkan cicit burung layang-layang dan bangau, menyalakan api unggun setinggi atap rumah, dan bercerita sampai mulut berbusa.

Enam bulan sejak mereka mengawali langkah di Pulau Samosir, para bule kembali ke Medan dan terbang ke London. Namun Dilia tidak ikut terbang, ia memilih tinggal lebih lama di Pulau Samosir.

Bukan karna kehilangan tiket -Dilia- tidak bisa pulang, bukan juga karna ia suka mencicipi pora-pora goreng yang di lumuri kecap asam pedas.

Parlin yang menghentikan langkahnya, laki-laki bongsor 95 Kilogram itu biangkeladinya.

Cinta tumbuh di tanah Deli, tak pandang bulu, pria Batak dan princcess asal Inggris berasmara. Parlin sudah jatuh hati pada pandangan pertama, ”Tak pernah aku jumpa bule macam itu.”

Dilia lah yang menjadi cinta pertama Parlin, pekerjaannya sebagai guide menghadiahkan Parlin seorang kekasih.

Parlin bekerja sebagai pemandu lebih dari 17 tahun, ”Awalnya iseng aja, eh jadi keterusan.” pemandu lepas seperti Parlin hanya ada empat orang dan yang fasih berbahasa Inggris hanya Parlin.

Parlin semakin mahir berbahasa Inggris sejak ia bersama Dilia, Dilia menjadi mentor kedua setelah Garry yang harus berpulang ke tanah asalnya. Saat itu, Parlin tak hanya mahir mengucapkan, I, You, They, Us. Ia juga sangat lihai mengucapkan sekaligus mengeja kata-kata seperti Chocolate, saccharin, abreast.

Pernah suatu ketika Parlin dan Dilia memanjat Bukit Samosir, tujuannya jalan-jalan.

”Can you take that coconut?” Parlin memperagakan permintaan Dilia.

”Of course” ingat Parlin.

Parlin memetik gitar menyanyikan lagu Batak. Turun dari bukit, mereka melanglang ke pemandian air panas, Simanindo, dan Bukit Lawang.

Akhirnya, 1998, Dilia berpamitan pulang, Dilia mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan swasta asal Inggris. ”Pagi 9 Juni, aku antar dia ke bandara.”

Parlin kesepian, ritual makan malam di pinggir danau yang mereka lakukan setiap hari sudah tidak dilakukan lagi. Parlin harus menyendok nasi seorang diri, memperkenalkan sigale-gale seorang diri, membawa turis asing dan domestik seorang diri, serba seorang diri.

Pengalaman asmara bersama Dilia tidak ia buang, Dilia berjanji kembali untuk menjemput Parlin,dan melangsungkan pernikahan di London.

Namun apa daya, naluri laki-laki Parlin memuncak ketika ia berumur 30-an. ”Aku sudah tidak tahan, aku menikah dengan perempuan lain.” Sejak Dilia pergi, ia tidak pernah memberi kabar, pun surat yang dikirimkan Parlin tak terbalas. Tiga tahun tanpa kabar.

Parlin berbahagia setelah menikahi perempuan asli Samosir itu. Syukur, istrinya hamil di tahun pertama mereka menikah, 1999. Kerja keras Parlin mampu membeli hektaran tanah dan berkebun. Walau demikian, ia tetap menjadi guide lepas.

Suatu ketika, Parlin merebahkan diri seusai berkebun, telepon genggam berbunyi. Dilia menelpon. Ternyata Dilia seketika sampai di Parapat. Hendak menemui Parlin.

Mereka akhirnya duduk di New Restoran. Bercerita panjang lebar, menanyakan keadaan, ”I have a wife, pregnant,” ingat Parlin.

Malam harinya, Parlin berjanji akan mengenalkan Dilia dengan keluarganya. Ketika Parlin hendak menjemput, Dilia hilang dan tidak pernah menjumpainya lagi.

Anak terkhir Parlin diberi nama Dilia, tiga anaknya yang lain juga diberi nama ala kebarat-baratan. Anak pertama Monica, anak kedua Jorry, dan anak ketiga Garry.[]

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s