Hp Hitam-Putih Penuh Warna


Ilustrasi
Ilustrasi

Angin kencang sekaligus rapatnya garis hujan menjadi latar ketika delapan pria paruh baya dan tiga mahasiswa Universitas Negeri Padang membelah gelap malam belantara Talang, 5 Juli silam. ”Kita berhenti disini, hujan semakin lebat,” perintah Asep.

Sontak 10 ‘prajurit’ Asep mematikan langkah dan siap untuk menerima perintah selanjutnya. ”Siapkan tenda,” perintahnya lagi. Secepat kilat salah seorang ‘prajurit’ merogoh ransel untuk mengambil tenda. Ia sangat piawai menyiapkan tenda, tidak lebih dari lima menit tenda siap didiami.

Pagi itu, pukul 1, tak satu pun dari mereka membawa senter, hanya  flash light daritelepon selular dan remang-remang sinar rembulan lah yang dapat diandalkan. Syukur, bulan kala itu melingkar sempurna.

Duni, laki-laki dua dekade itu memegang satu dari tiga telepon selular yang dilengkapi perangkat flash light . Malam itu, ia menjelma menjadi General Manager PLN Sumatra Barat karna harus memenuhi permintaan delapan ‘pelanggannya’ yang krisis lampu. ”Duni Lampu!” teriak salah seorang rekan.

Andai saja satu bulan yang lalu, Duni menerima tawaran orang tuanya membeli sebuah telepon seluler yang baru, tentu ia bukanlah General Manager PLN Sumatra Barat malam itu. Ia akan menjadi satu dari sembilan pelanggan lain yang nyasar di belantara Solok dengan ketinggian 2597 Meter.

”Aku pakai HP (Handphone) yang dulu saja,” tolak Duni ketika orang tuanya menawarkan telepon selular yang baru. Orang tuanya mengerti dengan keengganan Duni memiliki telepon selular baru, ia sudah menggenggam telepon selular besutan Nokia itu sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Banyak hal menarik melekat di telepon selular yang lahir pada tahun 2008 itu, meski hanya warna hitam dan putih yang dapat diternak telepon selular bertipe 1200, Duni merasa puas, ”Tidak perlu beli baru, yang ini sudah ada dan masih bisa digunakan,” jelas Duni kepada orang tuanya.

Ketika Duni tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Babat Toman, Duni menggunakan dua telepon selular, alasannya sederhana, hanya untuk berkomunikasi. Nokia dan Mito Dual Speaker ia kantongi. Sayangnya, telepon selular paling canggih yang pernah ia miliki (Mito) hilang di Pasar 16, Palembang.

Ketika itu ia sedang berbelanja bersama rekan kampus seusai kuliah lapangan di Muara Inim. Duni hendak membayar satu kilogram buah salak, ia merogoh kocek yang bersembunyi di saku kanan baju hangatnya. Setelah uang dialamatkan, lantas Duni mengambil telepon selular yang berada di saku yang sama. Hilang. Ternyata telepon selular itu sudah terpindah tangan. Dicopet.

Duni pulang membawa satu kilogram salak dan dua kilogram duka. Bagaimana tidak, telepon selular yang mampu memutar lagu Minang kesukaannya itu hilang diambil orang. Setiap Duni bergegas mandi, Mito menjadi salah satu perlengkapan yang harus dibawa. Ia akan memutar lagu minang, membesarkan suaranya, dan terkesan acuh kepada tetangga, karna membuat sebuah konser di kamar kecil dengan sekubus air dalam bak, suara menyalak dari sela-sela fentilasi udara, konon ada dua vokalis berduet di kamar mandi itu, Duni dan An Droyis. Pernah juga Duni dan Boy Sandi.

Setelah kejadian itu, Duni hanya menggenggam satu telepon selular yang besarnya hanya tiga ruas jari. Beberapa ejaan di keypad sudah hilang dimakan zaman, beberapa kali harus ditelanjangi dan dijemur karna terjun bebas ke genangan air, kalau terbanting ke lantai ia mengaku lupa, ”Karna sudah berkali-kali,” jelas Duni.

Anehnya, telepon selular itu tidak pernah rusak apalagi padam, ia tetap setia menerima pesan atau telepon dari siapa saja, masih kuat mengirim sepucuk pesan singkat atau berjam-jam telponan. Baterai yang digunakan juga masih punya keluaran pabrik nokia, belum diganti, hanya cassing yang pernah diganti, pecah akibat terjun bebas.

Duni senantiasa membubuhkan kata-kata yang tidak ia mengerti sebagai profil; Justone, Onlyone, specialone, a moon, possible… Ia sendiri tidak paham dengan apa yang ia tulis. Biarpun demikian, justone menjadi kata-kata favorit Duni dan kerap ia gunakan sebagai profil.

Telepon selular itu ditambahkan security code, sehingga, ketika Duni hendak mengoperasikan telepon selular itu, ia harus memasukkan kata atau angka yang paling rahasia dalam hidupnya. Hanya dia yang tahu.

Awalnya ia tidak menambahkan fitur pengamanan seperti itu, sampai pada suatu ketika seorang rekan mengambil telepon selular Duni dan membaca isi kotak masuk, muncul pula kabar burung di antara sahabat. “Duni sedang dekat sama ini, Duni sedang dekat sama itu,” kata Duni. Hal itulah yang memaksa Duni menambahkan fitur pengamanan. Agar gadget mungilnya tidak ‘dibedah’ tanpa seizin si empunya.

Kesederhanaan telepon selular itu tidak membatasi Duni dalam berkomunikasi, pernah ia menghubungi sejarawan Padang, Eka Pidia, pula Prof Akma Zaki, Pakar Pendidikan, dan masih banyak lagi. Urusan internetan, Duni dibekali seperangkat laptop oleh orang tuanya, pun ada modem yang membantunya berselancar di dunia maya. Pula fasilitas wi-fi yang dapat digunakan cuma-cuma oleh Duni ketika berkuliah.

Internetan tidak membuatnya pusing meski Nokia tidak menanamkan fitur browsing di telepon selular milik Duni itu. Namun yang pernah membuatnya mengernyitkan dahi ialah ketika ia hendak menghubungi pemimpin redaksi SKK Ganto, nomor kontak rekan wartawan kampusnya hanya ada di Mito dan tidak di Nokia.

Duni terpaksa ke warung internet karna karna Mito hilang dan modem tertinggal di Padang, ia mencoba menghubungi pemimpin redaksi lewat pesan Facebook, berhasil, ada tanggapan. Ia terbebas dari misskomunikasi yang dapat mengancam posisinya sebagai redaktur online yang sedang dikejar deadline.

Ketika ia kembali ke Padang, Duni langsung mengumpulkan nomor kontak. Ada nomor kontak yang diawali huruf G, itu simbol untuk rekan SKK Ganto, ada pula Cs, itu untuk menandakan sahabat.

Selain mengumpulkan nomor kontak, Duni mencoba beradaptasi dengan segala kekurangan peliputan. Jangankan merekam video, merekam barang satu menit percakapan saja mustahil. Alih-alih, ia meminjam tape recorder dari SKK Ganto saat hendak meliput, untuk menambah keakurasian data, Duni menjadikan telepon selularnya sebagai catatan pribadi, mencatat apa saja yang tidak mampu ‘dicatat’ oleh tape recorder, mulai dari situasi, kondisi, mencium bau, mengecap suhu, dan lain sebagainya.

Masa-masa sulit yang harus memutar otak dan masa-masa suka yang datang begitu saja sudah ia lalui. Mito bersama lagu minang dan nomor kontak yang hilang, jelas tak menyurutkan semangat Duni untuk memecahkan polemik mahasiswa modern seperti saat ini. Buktinya, sejak ia bergabung dengan SKK Ganto sampai ia diangkat menjadi redaktur online, ia tidak pernah kelimpungan mengecek surat elektronik redaksi, mengedit tulisan yang akan diposting di portal SKK Ganto juga aktifitas lain yang pada umumnya membutuhkan smartphone untuk mengatasi persoalan tersebut.

Delapan pria paruh baya ditambah tiga mahasiswa Universitas Negeri Padang yang tak ubahnya insan pecinta alam itu melanjutkan perjalanan dari tempat peristirahatan tadi malam. Tepat pukul 6 pagi langkah kaki dilahirkan, satu jam kemudian, tim yang di pimpin Asep tiba di lokasi bebatuan cadas, ia menerawang kalau timnya tidak akan mampu melewati medan yang lebih berat dihadapannya. Disamping itu, air mineral yang dibawa bekal telah habis semalam.

Lantas Asep menghentikan perjalanan di bebatuan cadas, menikmati bebatuan keras sekaligus tajam, Duni takjub dengan pemandangan itu, karna itu kali pertama ia menaklukkan gunung dan Kali pertama mengakui kepahlawanan sang Hp hitam-putih penuh warna miliknya.[]

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s