Pendulang Lembar Ribuan


Ilustrasi: Juru Parkir
Ilustrasi: Juru Parkir

Otot lengan lelaki itu masih menyimpan sekelumit kekuatan di batang umurnya yang senja. Genggaman telapak tangan kakek itu masih kokoh menyusun sepeda motor bersaf-saf, diputar punggung bebek bermotor itu sejajar dengan yang lainnya, “Enak dipandang, karna rapi.”

Tarmizi, pria tujuh dekade itu cogah mengapikkan sepeda motor demi sepeda motor di lahan seluas setengah lapangan sepak bola. Menggeluti pekerjaan sebagai juru parkir (Jukir) sudah ia jalani sejak 1971. “Ketika itu saya masih lajang,” cerita Tarmizi.

Tarmizi lajang, Tarmizi malang, “Saya sudah beberapa kali melamar pekerjaan, sebagai penjaga toko, tukang fotokopi, penjaga rental Play Station tapi kemalangan, tidak ada panggilan,” ujar Tarmizi. Seraya mencari pekerjaan, Tarmizi kerap menjadi juru parkir di beberapa tempat, seperti, di emperan toko, dan bank, warung kopi dan warung nasi.

“Sejak 1971 itu, saya menyerah untuk memohon pekerjaan,” kata Tarmizi kemudian. Ia memantapkan diri sebagai juru parkir dan enggan mencopot seragam biru garis kuning itu kemudian.

Bermuasal dari tiada pilihan pekerjaan, ditambah desakan kebutuhan kehidupan sehari-hari yang membesarkan hati Tarmizi agar sudi mempekerjakan diri sebagai juru parkir. Bukan pilihan yang gampang untuk seorang pemuda dengan segudang teman mau berpeluh di siang tarik setiap hari, mengatur punggung bebek yang hanya “disogok” dengan lembaran seribu rupiah oleh si empunya.

“Tentu saya diejek teman, katanya tidak ada anak muda yang mau jadi tukang parkir, saya dikata aneh,” tutur Tarmizi.

Tarmizi paham dengan resiko emosional yang menggelembung akibat pekerjaannya itu, cemooh teman sebahu terus menghujam sampai titik kesabaran yang paling dalam. “Saya tidak kuat, ya saya menyerah.”

Tahun 1975 Tarmizi gantung peluit, seragam “dinasnya” mengudara di atap lemari. Penghasilan yang agak lumayan menutupi kebutuhannya sehari-hari sudah tutup buku, tidak ada lagi sarapan dan makan malam, “Saya cuma makan siang, 1x sehari,” kata Tarmizi. Dengan tidak ke “ladang” merapikan beberapa punggung bebek, ia menerka akan penghormatan dan cabut kata dari sejawat yang terus terang mencelanya saban waktu.

Namun bagai pungguk merindukan bulan, penghormatan yang ia harapakan tak kunjung berwujud, sedang kata maaf bergelantung di bola lampu kamarnya. Ia semakin dikucilkan, kali ini bukan karna pekerjaannya, melainkan status penggangguran yang ia semat. “Saya malah dikatain penggangguran, gak punya masa depan,” kata Tarmizi. Teman sebangku Tarmizi sudah banyak yang menikah, ketika itu. “Teman saya ada yang punya toko, toke labi-labi, guru, PNS.”

Tarmizi dan sedikit pemuda lain yang masih bujangan, mereka masih melanglang memantapkan pekerjaan, memaksimalkan penghasilan yang nantinya disulap menjadi cincin pernikahan. “Akhirnya saya kembali lagi jadi juru parkir, saya ketemu hidayah ‘di jalan,’” tutur Tarmizi kemudian.

Ia menyadari satu hal, “Tidak ada pekerjaan yang kecil, hanya ada orang yang kecil,” tambah Tarmizi. Ia paham dengan konsep tidak ada pekerjaan yang kecil, justru sebaliknya, hanya ada orang yang kecil. Suatu ketika, ia berjalan menyusuri pedalaman Aceh, 1976. Ia melihat pemuda kampung bergulat dengan lumpur sawah dan bau kerbau, tidak ada yang salah dengan itu, yang dikerjakan dan hasil dari pekerjaan itu halal. “Saya sempat cerita-cerita dengan kawan di kampung nenek saya itu, mereka mengatakan seperti itu.”

Teman sekampungnya mengisahkan Tarmizi sebagai bola, “Saya dimisalkan bola, yang menggelinding bukan karna kemauan dan kehendak saya, melainkan orang lain,” cerita Tarmizi me-reka ulang obrolan sejawatnya di kampung. Contohlah lebah, sambung Tarmizi, “Lebah divonis oleh manusia (hasil penelitian) tidak bisa terbang karna sayapnya terlalu kecil sehingga tidak mampu melayangkan seonggok tubuh dan string penyengat di punggungnya.”

Namun alam berkata lain, lebah mampu terbang. Lebah tidak menghiraukan hasil penelitian manusia, disamping ia tidak mampu membaca dan memahami hasil penelitian itu. “Itulah kuncinya, tidak perlu menghiraukan olokan orang, jika yang dikerjakan sama sekali tidak bertentangan dengan akidah dan kearifan lokal,” jelas Tarmizi.

Tarmizi langsung mengenakan seragam dan menyematkan peluit ke mulutnya sepulang dari “berguru” di desa neneknya itu. Agaknya ia dapat petuah penting yang mengubah kerangka berpikir Tarmizi ke arah yang lebih baik.

Sejak saat itu, Tarmizi tidak pernah menghiraukan keritikan tidak membangun. “Saya abaikan saja, tidak ada gunanya.” Dengan menekuni pekerjaannya itu, Tarmizi rutin menyisihkan penghasilannya ke buku rekening. Niatannya untuk menikah. Syukur, hajatan Tarmizi terkabul di akhir tahun 1979, ia menikahi dengan gadis asal Takengon.

Gadis itu lulusan akuntansi Fakultas Ekonomi Uniersitas Syiah Kuala, namanya Zahara. Zahara turut meringankan punggung Tarmizi mengais rezeki setiap hari. Ia menjadi pegawai bank lokal di Aceh. Menurut Tarmizi, “Istri saya itu tertarik karna keuletan dan kepintaran saya, walau saya hanya tamatan SMA,” terang Tarmizi.

Sementara itu, Tarmizi punya taktik jitu untuk mengubur kejenuhan menjadi tukang parkir yang hanya duduk dan mengatur bebek bermotor itu. “Saya berlangganan majalah, seperti Tempo dan Gatra, selain itu saya suka merencanakan program berwirausaha,” kata Tarmizi.

Menurutnya, pekerjaan sebagai juru parkir tergolong “istimewa”, “Selagi kita jaga sepmor orang, kita bisa melakukan hal positif lainnya, seperti membaca buku dan berkhayal,” imbuhnya.

Tak heran, saat ini, Tarmizi memiliki tiga pintu toko yang ia kelola menjadi showroom sepeda motor. “Itu berkat kerja keras saya dan istri saya,” kata Tarmizi.[]

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s