Kandungan Informasi Sebanding Kecepatan Penyajian Berita


Ilustrasi
Ilustrasi

Cyber media bisa dikata sebagai wajah baru di kancah penyajian informasi, khususnya berita saat ini. Ia pula yang memegang rekor sebagai media paling cepat dalam penyajian informasi apabila dibandingkan dengan media cetak yang memiliki “ritual” mencetak informasi-informasi terangkum itu kedalam lembaran-lembaran kertas.

Selain penyajian berita yang super cepat (menerbitkan informasi tanpa melalui proses cetak), mengakses informasi menggunakan cyber media juga tak kalah cepat, ia dapat diakses dimana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun. Kemudahan-kemudahan seperti itulah yang mampu menarik pelanggan media cetak.

Pembaca akan berpikir, untuk apa menunggu esok hari kalau saat ini bisa memperoleh infomasi, misalnya.

Peristiwa, isu, dan perubahan akan terus lahir seiring berjalannya waktu, media dituntut untuk mampu menilai, merangkum, dan menyajikan ketiga agenda itu menjadi sebuah informasi yang layak dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Terlepas dari kecepatan penyajian dan perolehan informasi. Nilai-nilai berita yang menjadi syarat sahnya informasi haruslah berbanding lurus dengan fakta yang ada.

Menjadi tidak baik apabila mengambinghitamkan fakta demi penyelewengan aktualisasi berita. Juga mengurangi nilai aktulialitas apabila berlama-lama dalam penyajian sebuah infomasi yang seharunya cepat diketahui masyarakat.

Kesinambungan antar keduanya adalah cita-cita media cetak, pun cyber media. Untuk mencapai cita-cita itu perlu diperhatikan potensi-potensi yang terkandung di dalam kedua media tersebut tanpa memandang sebelah mata akan keduanya.

Jika ditinjau dari tujuan media dalam masyarakat, diantaranya (McQuil; 1991: 71) meliputi lima kategori, yaitu, informasi, korelasi, kesinambungan, hiburan, dan mobilisasi. Beranjak dari tujuan itu muncul semangat yang diharapkan dapat mengontrol perilaku-perilaku berjurnalistik yang baik dan benar.

Pun terlampau baik dan benar, tetap ada perbedaan yang mencolok jika membadingkan antara cyber media dan media cetak pada umumnya. Cyber media cendrung lebih cepat menyajikan berita ketimbang rekannya media cetak.

Dari segi muatan, cyber media lazim diisi dengan berita jenis straightnews yang hanya mengulas tragedi ketika itu juga. Tulisan-tulisan seperti itu biasanya memfokuskan tulisan pada 5W dalam unsur berita, dan sangat jarang menyelipkan unsur 1H.

Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat cyber media dituntut untuk menyajikan berita secepat mungkin, dan jika harus memewawancarai narasumber yang dapat menjawab unsur bagaimana pada berita, hal ini dapat mengorbakan poin kecepatan sebagai cyber media.

Pun demikian, ada beberapa hal yang menyebabkan “kesempurnaan” sebuah informasi dianggap pincang pada cyber media yaitu, kemudahan dan kebutuhan. Kemudahan dalam menerbitkan informasi dan kebutuhan para pembaca untuk mengonsumsi informasi itu secepat mungkin.

Dua hal itu saling terkait dalam menyajikan dan menerbitkan sebuah berita. Dua hal itu pula yang menyebabkan sebagian orang melihat sajian berita pada cyber media kurang sempurna.

Wajar saja, betapa mudah seoarang redaktur yang bekerja pada sebuah cyber media ketika menerbitkan sebuah berita, ia hanya membutuhkan koneksi internet. Setelah online, berita terbit.

Mengenai kebutuhan para pembaca, redaktur sebuah cyber media akan berpikir, bahwa kecepatan menyajikan sebuah berita menjadi senjata pamungkas cyber media itu sendiri.

Di sisi lain, sedikitnya informasi yang diberitakan melahirkan rasa penasaran kepada para pembaca, apabila rasa ini terakumulasi, maka lahirlah pandangan kecepatan pemberitaan cyber media tidak sebanding dengan informasi yang disajikan.

Jika saja cyber media mampu mengontrol rasa penasaran itu tidak sampai menggelembung. Pandangan miring terhadapnya tentu tidak pernah ada. Bahkan, hal itu menjadi stimulan untuk menarik dan memastikan para pembaca akan kembali mengunjungi cyber media itu kembali.

Menerbitkan tulisan panjang juga dapat menjenuhkan pikiran para pembaca, terlepas dari konteks tulisan. Misalnya tulisan yang panjangnnya 2000 sampai 3000 kata diakses melalui peranti laptop, membaca tulisan sepanjang itu tentu akan jenuh, ditambah cahaya monitor dan lebarnya rentang tulisan dari kiri ke kanan kejenuhan semakin menjadi-jadi. Oleh karnanya dibuat sesingkat dan sepadat mungkin.

Hal-hal diatas merupakan penyebab informasi-informasi dalam berita cyber media terlihat pendek dan tidak memenuhi unsur berita. Tidak soal keakurasian data.

Keakurasian data tentu menjadi syarat utama penyajian informasi, terlepas ia cyber media atau bukan. Tidak ada tawar-menawar akan hal itu. Karna ia cyber media maka para wartawannya cukup menyalakan imajinasi dan ilmu beropini dalam menciptakan berita, tidak seperti itu. Pun karna ia media cetak yang deadline-nya lebih longgar beberapa jam saja bisa melakukan praktek-praktek akurasi data.

Keakuarasian data adalah harga mati. Menjadi fatal ketika harga mati itu tidak ada didalam informasi yang disajikan, efeknya terasa sampai kepada nyawa. Maka keakurasian data harus berada di depan, setelah itu diikuti kecepatan.

Poin yang sejalan dengan ide kandungan informasi sebanding kecepatan penyajian berita, yaitu, verifikasi. Verifikasi merupakan esensial dalam dunia jurnalistik. Tanpanya, semua menjadi tulisan opini dan terkaan semata.

Disamping itu, verifikasi merupakan langkah akhir dalam mengemas informasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, verifikasi merupakan pemeriksaan tentang kebenaran laporan, pernyataan, dan perhitungan uang.

Data yang telah diperoleh seorang wartawan tidak serta merta diinformasikan kepada para pembaca. Ia harus memverifikasi data tersebut kepada orang yang berkopetensi pada bidang yang sedang dibicarakan.

Pada titik inilah terkadang cyber media kelimpungan. Satu sisi mereka harus segera menerbitkan berita, sisi lain mereka harus menyempurnakan berita dengan data yang akurat. Cyber media akhirnya mengambil jalan tengah, yaitu memberitakan peristiwa dan akan memberitakan data yang terverifikasi kemudian.

Namun para pembaca (pada umumnya) ingin membaca sebuah informasi secara utuh. Bill Kovach dalam bukunya “The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect” menekankan pada kebenaran berita. Ia tidak peduli akan kebenaran di kemudian hari kalau fakta pada saat ini hanya sekian.

Misalnya, seorang wartawan meliput peristiwa kecelakaan maut yang memakan korban hingga puluhan orang. Fakta yang ada saat itu adalah, bus yang ditumpangi oleh puluhan orang itu tidak punya rem. Akhirnya bus dengan kecepatan tinggi tergelincir dan masuk jurang.

Penyebab kecelakaan saat itu adalah tidak ada rem. Namun, beberapa hari kedepan, ditemukan fakta bahwa ada seseorang yang terekam CCTV melakukan sabotase terhadap bus itu. Ternyata bus yang disabotase itu ditumpangi oleh anak dari gubernur yang baru saja terpilih. Singkat cerita, timses lawan sang ayah korban lah yang menyabotase bus itu sehingga merenggut nyawa puluhan orang.

Melihat contoh diatas, ada beberapa fakta yang terus muncul. Cyber media menyajikan informasi tersebut secara berkala, tidak sekaligus. Inilah yang menjadi cirikhas dari cyber media, dan itu wajar adanya.

Jika media cetak merangkum keseluruhan fakta dalam satu tulisan, cyber media dapat menulis informasi tersbut menjadi beberapa tulisan.

Sehingga menjadi bias ketika dikatakan cyber media diragukan keakurasiaanya. Sebenarnya teknik penerbitannya saja yang berbeda dari media cetak. Bukan keakurasiaanya. Jika sebuah informasi, berita, tidak akurat. Tulisan itu tidak dapat digolongkan menjadi berita, karna berita mewajibkan keakurasiaan data, verifikasi data.

Solusi yang paling sederhana untuk memecahkan paradigma tentang cyber media adalah dengan membandingkan kesinambungan antara berita pertama dan berita berikutnya dengan tema yang sama. Apakah sama, apakah sejalan. Karna media-media yang telah memiliki SIUUP hampir mustahil tidak melakukan verifikasi data.[]

2 thoughts on “Kandungan Informasi Sebanding Kecepatan Penyajian Berita”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s