Tidak Tahu “La”


Ilustrasi La
Ilustrasi La

Hana ka teupeu La” merupakan celetuk dalam paduan dua bahasa; Aceh dan Arab. Biasa diucapkan oleh tetua kepada muda-mudi yang kelakuannya diluar batas, tidak wajar lagi. Jika diartikan, “Hana ka teupeu La” berarti “Tidak (kamu) tahu, La (Tidak; Jangan). Sedang la berarti Tidak atau Jangan.

Kini, celoteh seperti itu sudah sangat jarang dialamatkan oleh para tetua. Perilaku-perilaku negatif oleh muda-mudi yang saat ini begitu kentara seakan minim teguran. Hal ini pula yang memicu menggelembungnya perilaku-perilaku yang tidak elok itu.

Jika dikelompokkan pada strata “efek perbuatan”, teguran berada di tingkat paling bawah, diikuti dengan kekerasan, cemoohan, mengucilkan, dan lain sebagainya.

Namun, keampuhan teguran tidak bisa dipandang sebelah mata.

Idealnya, seseorang yang nyata berbuat salah akan mengakui kesalahannya setelah diberi teguran, lalu ia akan mencoba memperbaiki kesalahannya dan tidak pernah melakukan kesalahan yang sama.

Berbeda dengan zaman sekarang, banyak sekali orang “tuli”. Acuh dengan kritikan yang membangun. Padahal, jika diamini, kritikan merupakan stimulan pematang diri. Agar peka dan dewasa.

Selain itu, banyak sekali orang yang salah kaprah dengan quote besutan Apple, “Be Different”. Menjadi beda dalam hal kebaikan adalah semangat dari petikan ini. Mengganti kebiasaan memeberi uang kepada pengemis dengan mentraktirnya, misalnya. Atau menyedekahkan sejumlah uang ke kotak amal mesjid dengan tidak mengetahui jumlah yang diberikan.

Menjadi malapetaka ketika “Be Different” diartikan sebagai menjadi beda dalam hal keburukan. Agar terlihat berbeda dengan pengendara sepeda motor yang lumrah mengenakan helm, maka helm diganti dengan topi, misalnya. Atau agar terlihat berbeda dengan orang yang seharusnya berpakaian sopan, maka pakaian dipreteli sedemikian rupa agar membentuk apa yang “dibungkusnya”.

Oleh karnanya, budaya menegur sudah sepatutnya tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jika semua orang acuh dengan keadaan disekitarnya, maka haram baginya menghardik mereka yang tega berbuat perbuatan asusila.

Menyadarkan diri bahwa ia menjadi aktor pada lingkungannya mungkin masih menjadi mimpi disiang bolong. Akan terbangun ketika malang menimpa dirinya.

2 thoughts on “Tidak Tahu “La””

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s