Indahnya Berbagi Rezeki


photo#1
Foto: Para penerima hibah sepeda

(Catatan Perjalanan Penyerahan Bantuan Sepeda kepada Anak yatim, Piatu dan Anak Miskin di Pantai Timur Aceh)

Tepat pukul 16.00 WIB, 16 Agustus lalu. Tim POTRET bertolak dari Banda Aceh menuju Seunedon, Aceh Utara. Niatan memboyong 14 sepeda kepada siswa-siswi yatim, piatu, dan miskin yang sudah mengajukan bantuan sepeda kepada CCDE dan majalah POTRET beberap bulan yang lalu. Alhamdulilah, pengantaran sepeda ke empat desa di Seuneudon itu berjalan lancar, walau harus menginap semalam di Ule Gle sebab pekat malam kala itu memaksa mata untuk beristirahat. Maka, berlabuh lah kami di sebuah rumah yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalan raya. Setelah merebahkan tubuh dan menikmati sarapan, kami kembali mengukur jalan, Ule Gle – Seunedon yang ditaksir sejauh 179 Km.

Mobil Double Cabin, Ford Ranger warna hitam, yang di kedua pintu depan bertuliskan POTRET dikemudi langsung oleh Tabrani Yunis hingga ke tempat tujuan. Dalam perjalanan ke Seuneudon tersebut, kami menyempatkan diri untuk singgah di beberapa toko buku dan kios tempat penitipan Majalah Potret dan Anak Cerdas untuk memonitor perkembangan penjualan majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas

Sambil menyelam, minum air. Itulah istilah yang cocok dalam misi perjalanan kali ini ke wilayah pantai timur Aceh ini. Perajalan yang juga untuk terus mengusahakan agar majalah POTRET dan majalah Anak cerdas menjadi media yang aspiratif , kreatif dan menjadi pilihan serta kebanggan masyarakat Aceh. Ternyata, pepatah kalsik yang mengatakan lain lubuk, lain ikannya, lain padang, lain belalangnya, atau lain bunga, lain pula kumbangnya, menjadi catatan penting bagi sebaran kedua majalah ini di Aceh.

Begitulah potret pembaca majalah POTRET dan majalah Anak cerdas di beberapa ibu kota di pantai timur itu. Di satu kecamatan, penjualannya bagus, di kecamatan lain yang minat baca dan daya belinya rendah, maka tiras penjualan juga rendah. Apalagi minat baca masyarakat kita memang terasa sangat minim. Bukan hanya di kota-kota kecamatan, tetapi juga di ibu kota kabupaten. Tipisnya neraca penjualan majalah dan bacaan lainnya, termasuk di ibu kota Aceh Utara itu bukan karena “nilai” yang terkandung dalam majalah, melainkan peminat baca yang keropos. “Tabloid-tabloid dan majalah yang lain juga susah laku, pak,” tambah penjaja jendela ilmu itu.

IMG_20140815_155028

Bak hitam dan putih. Perangai baca-membaca di negeri petro dolar, Lhokseumawe berbeda dengan Lhoksukon. Arun post, salah satu tempat penitipan Majalah Potret dan Anak Cerdas buktinya. Majalah POTRET dan Anak Cerdas diminati public di daerah ini.

Sejatinya, Majalah POTRET dan Anak Cerdas tidak menganut paham bisnis murni. Kepedulian dan semangat perubahan lah yang melandasi penerbitan majalah itu. Tujuannya mengajak masyarakat umum, khususnya perempuan untuk menulis.

Azan dhuhur pun berkumandang, kami sudah tiba di simpang Pante Breuh, simpang yang menghubungkan Seunedon dengan Panton Labu. Kami memasuki halaman masjid dan memarkir mobil di halaman yang berada tepat di simpang itu.

Setelah shalat, kami menunggu Muktariah. Ia yang menuntun jalan menuju lokasi penyerahan sepeda, Desa Darul Aman.

Dalam perjalanan, kami terenyuh melihat keadaan masyarakat di beberapa desa Kecamatan Seuneudon. Jarak antara Desa Darul Aman dan pusat perbelanjaan Kecamatan Seunedon berjarak delapan kilometer.

Jalan bergelombang karena tak beraspal. Hijau sawah terhampar di sisi kiri-kanan jalan. Beberapa penduduk setempat yang kami temui seakan hendak mengadu akan pilu dengan keadaan. Keadaan yang jauh dari kenyamanan, dari nikmat kemerdekaan.

Rumah yang dibangun menggunakan papan tampak lapuk dimakan usia. Dindingnya bolong, tidak dapat dibayangkan jika hujan mengguyur.

Setibanya di Desa Darul Aman, kami langsung menurunkan sepeda di sekretariat LPSEH. Setelah menurunkan sepeda, kami langsung mensurvei para calon penerima. Berkeliling kampung tak dapat dihindari. Akhirnya kami menunggangi bebek besi, mengarungi perkampungan yang didominasi oleh persawahan.

Mayoritas kaum perempuan berprofesi sebagai penganyam tikar daun pandan. Tangannya lihai memilin helai-helai daun pandan yang dijemur selama dua hari. Untuk satu tikar yang berukuran sedang dihargai senilai 50 ribu. “Menyeu dicok agen, yum jeut ke 35 ribu (Kalau dibawa oleh agen, harganya hanya 35 ribu),” ujar salah seorang pengayam tikar.

Mereka banyak bercerita balada kehidupan di tanah kelahiran orang nomor dua di Aceh saat ini. Mulai dari pergerakan ekonomi sampai kesenjangan sosial. Benar saja, di salah satu sudut desa berdiri rumah gedongan bercat kuning dengan pagar membumbung tinggi. Begitu kontras diantara rumah-rumah papan yang reot.

Kami kunjungi rumah per rumah. Sedikit menanyakan kabar dan semangat anaknya bersekolah. Semua mengaku semangat bersekolah. Selama ini mereka bersekolah tanpa kendaraan. Jalan kaki sejauh berkilo-kilometer bukan dongeng di malam hari.

Wajah penerus bangsa yang polos itu tersenyum menerima hibah sepeda. Mungkin dalam hatinya, ia tidak akan telat sampai ke sekolah atau tidak berkeringat saat mengikuti jam pelajaran.

Syukur, mereka bersyukur. Tepat pukul 17.00 WIB. Kami menyerahkan sepeda-sepeda itu kepada mereka yang layak. Mereka gembira walau hanya menerima sebuah sepeda. Bukan uang yang berjuta-juta, apalagi janji para pemimpin yang seakan menipu mereka.

Dalam keterbatasan, mereka tidak menyerah untuk tidak menuntut ilmu. Meski harus berpanas-panasan di jalan. Menghirup debu.

Mereka berterima kasih kepada para donatur yang telah menyumbangkan segenggam berkah kepada mereka. Mereka berterima kasih atas kenikmatan kemerdekaan walau melalui sepeda.

Sebab, para penderma mempercayai CCDE, Majalah Potret, dan Anak Cerdas untuk memanjangkan tangan mereka sampai kepada orang yang membutuhkan. Kami tidak serta-merta memberikan hibah sepeda itu. Tidak menitipkannya pula pada jasa pengiriman barang.

Kami harus bertemu langsung dengan calon menerima, mendengar kesah yang selama ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Bukan dengan wacana dan hanya bicara. Kami berbuat. Semoga membawa manfaat dan dapat mengantarkan mereka menggapai mimpi perubahan hidup.[]

Iqbal Perdana

Mahasiswa hukum Unsyiah, Staff di Center for Community Development and Education

One thought on “Indahnya Berbagi Rezeki”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s