Camera-Technology-to-Assist-Your-Property-Inspection-App

Teknologi Kebablasan


Teknologi, waw, makhluk tuhan yang satu ini menjadi primadona di setiap kalangan. Tergantung dari cara memandang, namun saya melihat kehadiran tech-no-logi di tanah air kini cukup memprihatinkan. Yap, memprihatinkan. Memprihatinkan yang saya maksud bukan hal remeh-temeh semisal merasa tampan hanya dengan menggenggam ponsel anyar besutan perusahaan berlogo buah sompel atau muda-mudi yang menjadi setengah sinting gara-gara baterai ponsel genggammnya kandas.

Lebih daripada itu, BUDAYA. Well, barangkali menjadi pembahasan yang tak bertepi, ketika budaya disandingkan dengan teknologi. Saya akan coba kerucutkan, bahwa teknologi yang mempengaruhi budaya, bukan sebaliknya. Nah lo? Okay, ada, di Indonesia ada yang namanya budaya mempengaruhi teknologi. Tapi jumlahnya sangat sedikit.

Telpon genggam yang berhasil bermetamorfosis menjadi ponsel pintar adalah contoh perkembangan teknologi yang paling tampak, semua orang punya ponsel pintar.

Sebelumnya mari kita sepakati bahwa teknologi dan budaya akan sangat sulit disandingkan. Sebab, teknologi identik dengan modern dan budaya identik dengan jadul. Ya, tidak sepenuhnya benar sih, tapi begitu lah kira-kira.

Di negara mana pun –termasuk NKRI– tentu menginginkan negaranya melek teknologi. Alasannya beragam, juga akan menjadi pembahasan yang tak bertepi jika dirunut satu-persatu. Alasannya akan sangat berbeda tergantung dari kacamata apa kita melihatnya; politikus, teknokrat, masyarakat, dan lain sebagainya.

Tapi apakah cukup dengan negara melek teknologi? Bagaimana dengan rakyat? Bukankah yang terlebih dahulu di-melek-an itu rakyatnya? Sebab jika terbalik, kejadiannya akan seperti saat ini. Kini sungguh banyak orang yang menyelewengkan fungsi utama teknologi. Yap, teknologi saat ini dijadikan barometer ke-awesome-an seseorang, terutama muda-mudi Indonesia.

Tak perlu tunjuk tangan, karena kita semua juga tahu, situ beli iPhone 6S –misalnya—karena hanya ingin terlihat kaya, trendy, ganteng. Bukan karena kebutuhan. Yakin deh kalau karena kebutuhan, situ pasti beli ponsel pintar yang lain.

Mahal. Bisa jadi sangat relatif, bagi penulis sendiri harga ponsel senilai 10 Juta ++ tetapi fitur dan kemampuannya sama dengan ponsel pintar 5 Jutaan adalah mahal. Mahal bukan berarti tidak sanggup beli, maksud mahal, dengan uang segitu, sebenarnya saya dapat membeli keperluan yang lain, misalnya modif motor, modif PC, dan lain sebagainya.

Namun karena gengsi sudah lebih berat dari pada tubuh, ya munculah upaya. Nah upaya inilah awal bobroknya etika dan moral para penggunanya. Banyak muncul hal-hal aneh dan mengerikan. Semisal sudi menjadi kupu-kupu malam hanya karena ingin hidup trendy, menggunakan ponsel pintar mahal, super car, dan lain sebagainya.

Hal yang demikian sudah bukan barang baru. Alasan tuntutan zaman pun menjadi senjata. Guyonan seperti lebih pintar ponsel daripada penggunanya kini benar adanya. Karenanya sisi negatif dari kemajuan teknologi pada bidang satu ini lebih besar ruhnya ketimbang sisi positifnya.

Pertama, mabuk.

Banyak orang mabuk henpon canggih. Kamera yang lebih tajam dari mata sang empunya, body yang lebih mulus dari pada si empunya, dan Os yang lebih tajam dari kepala sang empunya kini benar-benar terjadi. Karena mabuk, banyak orang berbondong-bondong mengejar teknologi yang ia pikir cocok bagi dirinya.

Maaf cakap, apakah saya yang berstatus sebagai mahasiswa cocok dengan ponsel pintar senilai puluhan juta rupiah. Saya bukan bussinessman, bukan pula eksekutif muda yang memiliki jam terbang tinggi. Menerima panggilan video setiap saat, menulis email setiap saat, atau membalas setiap komentar follower di akun media sosial.

Sebagai seorang mahasiswa, saya akan lebih sering menggunakan laptop, untuk mengetik tugas, main game ringan, dan ngeblog. Ponsel? Cukuplah yang ada browsernya dan dapat menginstall CoC. Media sosial seperti FB, Ig, Twitter, dan lain-lain juga tidak mewajibkan penggunanya harus mememiliki smartphone canggih bernilai belasan juta. Jadi apa alasan saya membeli ponsel belasan juta selain sebagai sarana pamer bin gaya?

Kedua, maksa.

Menurut saya, yang cocok menggunakan smartphone canggih dengan nominal belasan juta adalah orang yang cocok, Ha?. Ya, bukan orang kaya atau bukan orang miskin. Bukan orang barat atau orang timur. Bukan orang pedalaman atau bukan orang gedongan.

Sebab, seyogiyanya, kerangka berpikir pengguna ponsel pintar haruslah based on purpose. Maksudnya, pekerjaan, keseharian, dan kebutuhanlah yang menjadi pertimbangan menggunakan smartphone, apakah jika saya membeli smartphone ini dapat menunjang kegiatan saya? Bukan hanya sebatas ingin, ingin, dan ingin, gengsi.

Memaksakan kehendak sering kali menjadi bumerang. Sebab kemampuan seseorang tidak sama dengan kehendak.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s