Day 200!

200


Syukur, dengan postingan ini suka tulis telah menerbitkan 200 tulisan. Ini merupakan salah satu checkpoint sekaligus babak baru bagi saya pribadi selaku tukang saji. Saya ucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada para subscriber dan para pembaca sekalian. Sebab jujur, saya tulus menulis kisah kepada khalayak pembaca. Untuk dinikmati, semoga memotivasi.

Perlahan tapi pasti, mungkin idiom itu paling tepat untuk saat ini. Sudah lima tahun berjalan, akhirnya sampai di batu 200. Batu yang mungkin bagi pengelana lain sudah 1000 atau 2000. Pelan-pelan, tapi pasti. Karena toh 1 pun merupakan jarak, saya sudah sedikit jauh dari titik mula.

Dok. Suka Tulis
Dok. Suka Tulis

Entah sampai kapan, batu ke berapa, sukatulis berhenti. Mungkin ketika saya mati. Baik mati gairah menulis atau mati tidak bangun lagi.

Pun blog adalah arsip pribadi, yang diijinkan si empunya diketahui oleh orang lain. Saya demikian. Beberapa sendi kehidupan  saya tuliskan dalam beberapa post; perjalanan, mendulang ilmu, percintaan. Sebab siapa tahu bisa jadi pelajaran, kan pengalaman guru terbaik.

Bahagia. Sebab candu untuk terus menyajikan postingan selalu didukung oleh banyak sekali rakan, mentor, dan juga pengunjung. Pun demikian, demi mengasah keterampilan blogging, saya selalu merujuk pada situs-situs, bloger-bloger yang sudah lebih dulu menyelam pada dunia ini. Dunia yang bagi saya  adalah wahana kreativitas sejuta umat.

Sebab siapa saja dapat menjadi bagian, mengambil peran, berbagi sesuai kesukaan. Untuk kategori traveling, misalnya, saban waktu saya membuka laman www.safariku.com. Saya kenal betul dengan pengelolanya. Namanya Makmur Dimila, menggambarkan rezekinya. Separuh hidupnya mungkin dihabiskan untuk traveling. Meski tergolong sepuh, dia tidak kikir ilmu. Tidak doyan “pamer”. Tidak bumbung bahu. Sederhana tapi rumit. Ia mengupas wisata dengan tulisan, tanpa foto narsis.

Kalau foto-foto, saya lebih sering mengunjungi laman facebook seorang teman asal Ujung Pandang, Makassar. Baru-baru ini, beliau jadi setengah waras karena Air Asia. Ada tiket promo ke India dengan harga yang tak masuk akal, terlampau miring. Sebelumnya, Fajri, begitu dia disapa sudah mengukur jalan Singapura-Malaysia-Thailand-Vietnam-Laos-China, hanya bertemankan kamera DSLR buatan Jepang, Canon.

Ilmu motret sering saya curi dari dia. Saya sempat satu perguruan dengan dia, perguruan media, di Parapat. Selama menimba ilmu bersama, ia tidak pernah absen mengabadikan momen. Kamera seakan menjadi bagian dari tubuhnya. Susah lekang.

Lalu ada rekan-rekan DETaK. Kalau ini teramat penting. Salah satu momen paling keramat dalam perjalanan hidup saya. Sebab dari situlah saya banyak sekali mendulang ilmu jurnalistik. Saya mengenal banyak sekali pentolan-pentolan juru tulis. Kepiawaian mereka merajut kata bukanlah hisapan jempol. Barangkali sudah strata expert.

Ada pula Esje. Pria tak berpacar ini memberi saya kemampuan lain, design. Bakatnya mencipta karya visual, apik. Ia menguasai betul Adobe, beserta jenisnya.

Saya juga punya rekan sekaligus mentor yang “berbeda”. Bukan rupanya, melainkan giatnya. Kalau daritadi saya kenalkan teman-teman “non-fiksi”, kalau ini, ya lawannya lah. Sebab ada kalanya jenuh. Melulu menulis fakta, meski pada dasarnya penuh dengan reka.

Ialah NSA, pemuda yang banyak sekali menulis kata tampan dan rupawan untuk karakter utama tulisan bohongnya, yang padahal dia sendiri, sangat lihai mencipta cerita. Karya-karyanya diganjar banyak sekali piagam, piala, dan ucapan selamat. Sampai saat ini kami masih berhubungan, ngopi, meretas ide. Pada 2012 lalu, kami sempat memiliki project pementasan teater bersama. Kami menjadi aktor, meski pada bagan acara, ia punya gelar lain, astrada, asisten sutradara.

foto: Latihan/ tim dokumentasi
foto: Latihan/ Tim Dokumentasi

Saya yang baru pertama kali tampil menjadi orang lain, jahat pula. Merasa sangsi. Sebab akan ditampilkan di gedung besar dengan ratusan pasang mata sebagai penontonnya. Memuaskan ratusan pasang mata itu bukan perkara mudah. Apalagi beginner seperti saya. Setidaknya saya tidak salah script, begitu standar yang saya tetapkan waktu itu. Mimik, gerak-gerik, pengucapan, itu tidak mungkin bisa sempurna dalam latihan singkat.

foto: Segera tampil /tim dokumentasi
foto: Segera tampil /Tim Dokumentasi
Foto: Segera tampil /Tim Dokumentasi
Foto: Segera tampil /Tim Dokumentasi

Alkisah, pada tanggal 1 bulan 7, 2012, pementasan pun berlangsung. Judulnya Noda Perdamaian, kerjasama antara Aceh Youth for Peace, Teater Rumput, dan BEM Fisip Unsyiah, ongkosnya ditanggung Earlham College University, Amerika Serikat. Acara berlangsung lancar tanpa ada satu percakapan pun yang saya lewatkan. NSA berhasil mengajari saya seni sandiwara. Hanya dalam waktu satu bulan saja.

Foto: Pasca Pementasan/ Tim Dokumentasi
Foto: Pasca Pementasan/ Tim Dokumentasi

Dan tentu masih banyak tokoh-tokoh lain yang mendukung “pergerakan” saya selama nge-blog. Tidak mungkin rasanya mengulas semua gelagat seperti apa mereka memotivasi saya untuk tetap terus berkarya. Yang pasti, saya sangat bersyukur dapat bertemu dan belajar bersama mereka. Terima Kasih

15 thoughts on “200”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s