ilustrasi/ unlockdemocracy.com

Blog Jadi Media Alternatif?


Kini, penyebaran informasi, pesat. Sebagian berpendapat limitless. Alhasil, siapa saja sangat mudah mencari informasi tentang apa saja. Barangkali kini masa jaya media, klimaks. Siapa saja dapat menciptakan media yang membicarakan tentang apa saja.

Bahkan terduga dalang pengeboman Thamrin, Bahrun Naim juga dapat “tayangkan” media, blog. Terkejut? Saya sarankan urung. Sebab siapapun yang menulis tentang apapun akan tidak ada efek, jika kita, sebagai penikmat media membentengi diri dengan cara menyaring informasi.

Maraknya kemunculan media baik mainstream maupun “non-mainstream“, tidak serta-mertameningkatkan mutu konten yang diudarakan.  Maksud saya, toh tidak semua yang mem-posting puisi adalah seniman. Tidak semua yang menulis lirik adalah pencipta lagu.

Oleh karenanya, menyaring-nyaring informasi mutlak diperlukan oleh pelaku baca. Tidak langsung menelan apa yang disajikan.

Menyaring-nyaring bacaan sangat berbeda dengan meragukan bacaan. Sebab, jika sudah ragu, itu artinya pembaca telah sampai pada kesimpulan. Padahal kesimpulan yang telah diambil terlampau jauh dari pesan yang hendak disampaikan.

Menyaring bacaan dapat meningkatkan mutu baca. Misalnya, ketika kamu tengah mendalami sebuah persoalan, terorisme. Kini, batang tubuh terorisme sedang marak diceritakan, media mana yang tidak menyajikan tulisan tentang terorisme? Saya pikir semua.

Tapi apakah semua media itu menyajikan tulisan yang serupa? Tentu saja tidak. Ada banyak versi, banyak sudut pandang. Dan kesemua sudut pandang itu tentu ada yang tidak kamu butuhkan. Dalam hal ini, cara membuat bom, misalnya.

Nah media yang menyajikan tulisan begitu patut dicurigai, disaring. Tidak langsung diamini. Sebab apakah kamu benar-benar ingin tahu cara membuat bom?

Begitu pun pada hal lain. Semua informasi, harus disaring. Cara yang paling mudah dengan membenturkan tulisan itu dengan kebutuhan kamu. Apakah kamu benar-benar membutuhkan informasi itu, atau sebaiknya dihilangkan.

Lalu apa jadinya ketika sebuah media menyajikan tulisan yang “tidak penting”. Seharusnya ditinggalkan, tapi sekarang justru sebaliknya. Tulisan miring, penuh desahan justru menjadi primadona para kaum baca.

Miris, karena pelakunya juga termasuk anak-anak. Apakah anak itu salah? Saya pikir tidak. Toh mereka hanya sebatas akses. Terlebih, sekarang mengakses tentang hal apapun sangat mudah, berada di ujung jari. Cukup klik.

Syukur, beberapa tahun belakangan ini pemerintah telah memblokir situs haram yang penuh desahan itu. Paling tidak, mampu membunuh situs-situs yang sudah populer di jagat maya.

Blog turut membantu membunuh giat terlarang itu. Sebab, pemicu utama banyak orang membuka situs ehek itu salah satunya karena tidak tahu ingin nge-browse apa. Blog mengisi kekosongan itu.

Blog niche, berbicara tentang banyak hal. Olah raga, musik, film, wisata, kuliner, dan masih banyak lagi. Pengguna alam maya “tidak bosan” sebab biasanya hanya membuka situs buatan Mark Z.

Kini sudah sewajarnya menjadikan blog sebagai media alternatif, pengisi kekosongan informasi yang kita butuhkan. Terlebih, kita juga dapat menyajikannya. Seperti kata Toni Morrison, tulislah yang ingin kamu baca.

3 thoughts on “Blog Jadi Media Alternatif?”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s