ilustrasi/ digitalcraftmarketing.co.uk

Kiat Memunculkan Konten Blog


Konten pada blog ibarat nasi dalam piring. Ibarat minyak dalam tangki. Tanpanya tentu relung blog akan hampa. Kosong, tidak berpenghuni. Untuk menciptakannya gampang-gampang susah, tergantung si empunya blog.

Barangkali, bagi pemula, akan sangat sulit disiplin menyajikan konten pada blog. Penyebabnya akan banyak sekali, namun yang paling populer adalah “tidak tahu ingin memposting apa”. Meski ketika menelurkan blog, mereka tentu sudah memiliki bayangan akan memposting apa, akan menghadirkan apa.

Percayalah, semua blogger, penulis pernah berada di liga pemula. Merasakan perasaan yang sama. Buta ingin memposting apa, karena berperasaan semua sudah disampaikan, semua telah diulas.

Padahal, blogger atau penulis adalah insan kreatif. Maka sudah semestinya keluar dari gang buntu bernama unproductive. Caranya?

Pertama, tetap tajam. Eksistensi seorang blogger berbanding lurus dengan kedisiplinannya menyajikan konten, terlepas dari hot tidaknya isu yang dideskripsikan. Namun peduli apa jika saat ini ketepatan menyajikan konten harus dibayar dengan mutu konten yang biasa-biasa saja. Toh tujuan awal kita disiplin memposting, mutu akan mengikuti berikutnya.

Meninggalkan sesuatu untuk mengejar sesuatu, untuk saat ini, wajar saja. Karena “senjata” masih terbatas, pengalaman berkarya baru saja tumbuh. Jadi “meninggalkan” mutu dan mengejar eksistensi adalah wujud dari gemar berkarya, apapun yang terjadi, hari ini harus publish konten baru.

Pun karena hal ini pula kita dapat mengukur mutu konten yang berpatokan pada waktu. Ketika dulu, postingan satu tahun yang lalu dibaca kembali, kita dapat melihat kekurangan dan kelebihan dari konten yang kita sajikan.

Kedua, kokoh.
Poin penting ini juga menjadi salah satu pondasi kekuatan nge-blog. Sifat kokoh disini harus dapat diaplikasikan pada beberapa tempat. Misal konten, seringkali blogger pemula atau penulis merasa jenuh, akibat tulisan atau kontennya masih saja “sepi”. Konon disukai, komentar pun tidak ada. Pembaca hanya dua-tiga orang.

Tetap lah kokoh, tanamkan dalam diri bahwa tidak ada yang salah. Konten bukan musabab. Karena memang belum waktunya saja, semua butuh proses. Agar digandrungi, ada proses. Membutuhkan waktu. Pada saat ini lah seorang peramu konten seperti blogger harus kokoh. Tetap menebalkan tekad, mengeraskan buat.

Selain itu, nanti, ketika sudah mulai ” diterima” dalam jagat maya. Akan banyak komentar, mengomentari dari berbagai sudut pandang. Pada saat ini, kamu juga harus kokoh. Menerima setiap masukan dengan cara menyaringnya. Karena komentar yang baik memiliki ciri membangun, bukan menyela.

Toh siapa saja punya haters, bahkan Rasulullah pun punya haters. Yang demikian sangat wajar terjadi oleh siapa pun. Oleh karenanya sikapi dengan bijak tanpa harus menindasnya. Hindari menyembuhkan kebencian dengan kebencian.

Ketiga, fokus.
Fokus membawa banyak sekali manfaat dalam urusan yang satu ini, meramu konten. Fokus pada satu pembahasan akan jauh lebih baik daripada memecah fokus pada dua atau tiga pembahasan. Oleh karena itu, pilih lah satu fokus pembahasan, misal otomotif, wisata, petuah, dan lain sebagainya.

Tidak ada larangan memang, mencipta lebih dari satu fokus. Saya pun mengantongi tiga fokus; travel, culinary, dan writing. Keragaman ini saya coba campur adukkan. Karena saya menulis angin-anginan, Sabtu dan Minggu saya gunakan waktu untuk melang-lang. Terbitlah tulisan travel atau kuliner. Di hari lain, saya menulis tentang kepenulisan dan tips. Tidak ada yang salah, asal bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Tidak sekedar mencipta rubrik tetapi fakir konten.

Keempat, membaca.
Strategi ini cukup mampu mendongkrak mutu konten, menjaring isu dan membaca target. Giat ini pula yang menjadi ujung tombak kemajemukan konten. Semakin sering membaca, konten yang kita sajikan akan semakin berwarna, tidak pucat.

Jangan pernah menalak tulisan atau konten yang bertolak belakang dengan kontenmu. Sebab ide muncul darimana saja. Pemicunya ya dengan membaca. Membaca lah dengan dua kaca mata, dari kaca mata penulis dan dari kaca mata pembaca. Maksudnya, membaca dari cara pandang penulisnya membuat kita mengetahui alasan ia menulis itu. Latar belakang dan ketertarikan penulis dapat kita pahami. Kalau kita berhasil melakukan ini, tulisan yang dibaca akan menelurkan banyak sekali makna.

Dan tentunya masih ada banyak sekali giat atau tips meramu konten, tergantung dari pribadi mematiknya dengan cara apa.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s