Foto: Tabrani Yunis dan Imran /Dok Pribadi

[DLOG] Senja di Panga Sedikit Lebih Lama


Apa itu DLOG? Baca Selengkapnya (Baca: DLOG Suka Tulis)

Kuda besi berkaki karet asli Amerika itu mengukur jalan Banda Aceh – Meulaboh enam hari lalu, 9 April 2016. Dipunggungnya, 15 sepeda berukuran kecil dan sedang terikat, ketat. Aku mendekam dalam tubuhnya. Hawa dingin menyeruak dari ventilasi AC mobil itu. Di luar sana, matahari menjilati apapun tanpa ampun.

Tabrani Yunis, yang lebih ku anggap sebagai mentor ketimbang bos memutar-mutar setir, sesekali ia tak pandang jalan karena bersahut bincang dengan seorang rekan di samping, Imran.

Aku yang paling muda duduk di belakang. Sedang tumpukan Majalah Potret dan Majalah Anak Cerdas menjadi lawan bicaraku di samping. Meski dari awal berangkat sampai tiba di tempat tujuan kami lebih sering diam.

Tujuan kami adalah bertemu 15 anak yatim, piatu, miskin di Kecamatan Panga, Aceh Jaya. Barangkali kalau bukan karena mereka, sampai kakek-nenek pun aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke situ. Tentu terlepas dari kehendak Tuhan. Padahal sebab kami bertemu 15 anak itu juga karena kehendak tuhan.

Kami bertemu mereka bukan karena ada agenda “politik”. Sebab saat ini di Aceh sedang akan merayakan pesta demokrasi, misi-misi kemanusian sering kali disalahartikan. Melainkan misi kemanusiaan. Misi kemanusisaan yang bagiku misi kemanusiaan yang sebenarnya. Sebab ada misi kemanusiaan yang misinya buat manusia tapi feedback-nya untuk kepuasan si empunya misi. If you know what i mean.

Tabrani Yunis, mentorku itu mencetuskan program 1000 sepeda beberapa tahun lalu. Sepeda-sepeda hasil sumbangan para masyarakat umum itu bertujuan untuk memudahkan mereka pergi menuntut ilmu ke sekolah. Sebab tidak sedikit anak-anak Aceh yang pergi mengakses ilmu berkilo-kilometer jauhnya, dan alat transportasi mereka hanya sepatu tipis. Kaki mereka terpanggang aspal panas siang terik. Belum lagi harus mengaduh-ngaduh sebab menginjak kerikil tajam. Potret demikian masih kontras terlihat di Aceh. Sempat saya mengunjungi sebuah sekolah berkeramik, mentereng di lokasinya yang masih agak kumuh namun tidak ada satu orang pun bersekolah disitu, sebab hewan ternak seperti sapi dan kambing bermalam disitu. Akan aku ceritakan pada postingan yang lain.

Karena itulah muncul program ini. Program yang setidaknya dapat membantu, walau skalanya kecil, jumlahnya sedikit. Tapi sungguh memberi dampak langsung bagi mereka penerus bangsa.

Sebelum kami ke Panga, Sabtu lalu. Diriku dan beliau pernah bertandang ke Seunedon, Aceh Utara. Kami mengantarkan sepeda-sepeda dan bahan bacaan. Itu hometown-nya orang nomor dua di Aceh saat iini. Tapi aku miris melihat pemandangan di desa yang kamera pun tidak boleh sampai terlihat oleh penduduk sekitar itu, dengan alasan kecemburuan sosial dan hal lain yang tak ku pahami. Desa itu jauh dari sentuhan pembangunan. Rumah-rumah papan beratap daun rumbia masih tidak terhitung jari. Jalan tanah berbatu. Kami mengantar bantuan sepeda untuk anak-anak disitu (Baca disini: Indahnya Berbagi Rezeki)

***

Kurang-lebih pukul 10 pagi kami mengaspal, moncong Ford hitam ber-decal POTRET dan Anak Cerdas pada tubuhnya menembus Gunung Grute. Salah satu gunung populer di Aceh yang bagi anak muda kekinian tak lebih dari tempat pacaran dan berselfie-selfie ria.

Seperempat perjalanan, Imran KO dengan rasa kantuknya. Ia dan rekan-rekan Ikatan Guru Indonesia (IGI) termasuk Tabrani di dalamnya ternyata panjang obrolan semalam. Belum berkesudahan sampai melampaui sepertiga malam. Wajar saja bagiku. Mungkin kalau Tabrani tidak menyetir, sudah keok juga. Dibelakang, aku asik mendengar mereka bercerita, nostalgia, sambil mendengar lagu Ari Lasso. Sebab sampai beberapa menit mencari tembang Ebiet G Ade tak kunjung ketemu.

Dari dalam mobil, Ari Lasso masih saja menceritakan bagian mana dari wanita yang harus di sentuh oleh lelaki. Katanya, bagian itu sungguh amat peka. Aku tak mau memanjangkan bayang, takut terjebak diantara syahdu dan “itu”.

Turun dari Grute, Tabrani memanggil saya, meminta mengetik pesan untuk rekannya yang menunggu di Panga. “Kami sudah di kilometer 85, Panga di kilometer berapa?”. Sejak awal Tabrani meyakini Panga tepat berada di kaki Grute, paling meleset hanya beberapa kilometer. Meski setelah menerima telpon, Panga masih terpaut 85 Kilometer lagi. Tuhan jauhnya masih seperti kembali ke Banda Aceh.

Sambil mengulum tawa, Tabrani kembali memacu Ford, aku sibuk membujuk agar majalah disamping mau berbicara, sedang Imran kembali ke alam mimpinya.

Album emas Ari Lasso sudah masuk lap ke-4. Aku yang tertidur ayam dibangunkan gemuruh di perut. Sedang ku tunggu para tetua di depanku berdiskusi soal dimana makan. Tak lama, Tabrani tanpa aba-aba memutar kemudi ke kanan, kini dihadapan kami adalah sebuah warung makan, jauh ke depan ada pantai dengan pasir putihnya. Wah lengkap benar perjalanan kali ini. Sebab memang, melakukan perjalanan di pantai barat-selatan Aceh seperti berlari di atas pantai berpasir putih. Sebab sejak dari Lhok Nga, yang hitam hanya aspal dan kotoran kerbau.

Suap demi suap nasi dalam piring tinggal kenangan. Nikmatnya mencubit-cubit ikan segar berbumbu khas di atas piring kini ya sebatas paragraf ini. Paling mungkin dinikmati hanya via ingatan. Tak lebih. Selepas cuci tangan, kami kembali mengaspal. Jaraknya sudah tidak jauh lagi, paling ya tiga sampai empat lagu lagi.

Pukul 3 kurang, kami sudah tiba di Keude Panga, Aceh Jaya. Cukup sepi untuk disebut sebuah pasar. Tak lama, rekan Tabrani yang menunggu di Panga tiba. Ia langsung menuntun kami ke rumah-rumah para penerima bantuan sepeda.

Foto: Pemberian sepeda oleh Tabrani Yunis
Foto: Pemberian sepeda oleh Tabrani Yunis

Punggung mobil yang tadinya dipadati roda-roda semakin renggang. Satu persatu diturunkan. Sembari memberikan sepeda, Tabrani juga memberikan petuah, sebuah motivasi. Bahwa hidup adalah untuk berbagi, membantu sesama. Caranya, belajarlah yang rajin, kemudian sukses, dan bantu orang-orang disekitar. Ia mengirimkan sinyal positif itu ke setiap anak. Tanpa terkecuali. Setiap selesai, lisannya selalu saja mengucapkan hamdallah. Anak-anak itu tersenyum, malu. Tersipu. Mata mereka seperti api yang menyala, semangat mereka untuk terus maju, nyata tampaknya.

Foto: Anak-anak di Panga, Aceh Jaya.
Foto: Anak-anak di Panga, Aceh Jaya.

Tepat sebelum Azan Magrib, kami usai berkegiatan. Senja sore di Panga kala itu barangkali menjadi salah satu senja yang paling menarik untuk kami dan mereka kenang.***

3 thoughts on “[DLOG] Senja di Panga Sedikit Lebih Lama”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s