Kenny G Sukatulis

[DLOG] Bila Mungkin Ebiet G Ade feat. Kenny G


Saya sebatas penikmat musik, bukan pengamat, apalagi pemusik. Kalau ditanya genre saya apa, saya akan menjawab apa saja, kecuali musik-musik yang dilantunkan keras sampai serak, sampai urat leher mau putus. Karena sampai saat ini saya belum menemukan letak nikmatnya mendengarkan lagu-lagu itu.

Dari dangdut sampai jazz, saban waktu saya dengarkan. Sejak akan tidur maupun sedang bekerja. Kalau sedang menikmati musik, saya akan melupakan perangai “buruk”, asal usul, juga ras pemusiknya. Sebab entah mengapa ada sebagian orang yang justru anti mendengarkan karya pemusik hanya karena perangai “buruk”, asal usul, dan ras pribadinya (pemusik).

Bagi saya karya adalah karya. Terlepas dari siapa ia dan apa yang ia perbuat. Ketika yang ia ciptakan itu “melumerkan” perasaan dan membangkitkan gairah semangat, saya akan menyukainya.

Cara saya menikmati musik pun bermacam-macam. Puncak kenikmatan saya mendengarkan musik adalah ketika dalam perjalanan dan bekerja. Seakan enak betul lantunan-lantunan, pesan-pesan, dan kejenakaan lirik-lirik itu ketika berkendara dan bekerja. Entah bagaimana caranya, saya semakin fokus.

Tak jarang pula saya mengukur sesuatu dengan durasi lagu. Semisal hendak pulang dari kantor, saya akan menghabiskan empat buah lagu. Kalau pulang kampung, tiga album Ebiet G Ade plus dua album Kenny G. Mendengar mereka bermusik ibarat merasakan Real Madrid memperoleh gelar Trebel Winner, kemenangan itu seakan-akan nyata. Padahal ya sebatas musik, sebatas babak final, sebatas posisi dua atau tiga pada liga domestik.

Ebiet G Ade Sukatulis
Ebiet G Ade /google.com

Kalau saja, ada pada suatu saat Kenny G berduet dengan Ebiet. Wah, apik. Mereka berdua melantunkan dendang “secukupnya” saja. Tidak lebih tidak kurang, pas. Itulah mengapa saya memutar rekaman lagu mereka berdua saban waktu.

Keenakan mendengar tembang seperti itu turut membangkitkan semangat. Bahkan pada satu titik pendengarnya dapat jatuh pada titik renungan. Sebab, tidak sedikit hits-hits Ebiet yang cukup mengena, semisal Ayah. Baru intro saja, saya bias mengingat kenangan saya bersama ayah. Kemesraan saya bersama beliau. Lagu itu juga mampu memompa semangat untuk tetap bangkit mengarungi bahtera kehidupan. Walau katanya sesaat.

Nah, bayangkan tembang-tembang itu disandarkan pada tiupan saksofon Kenny G yang mengalun-ngalun. Mengelus-ngelus relung hati, relung ingatan. Aih, baru hanya membayangkannya saja saya sudah senyum-senyum mau. Mau dengar. Penasaran. Bila mungkin?

3 thoughts on “[DLOG] Bila Mungkin Ebiet G Ade feat. Kenny G”

  1. Waduh, madridista rupanya. Terpaksa saya harus keluarka yel-yel saya: #viscabarça:mrgreen:

    Sepakat, ebiet & kenny g adalah kombinasi bagus. Kalau mereka berdua gabung, bakal mantap sekali hasilnya

    Suka

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s