ilustrasi talk

Teukeuch’ak


Lazimnya, muda-mudi Banda Aceh menghabiskan waktu luangnnya di warung-warung kopi. Ragam. Diantaranya online, menikmati wi-fi “gratis”.  Ada yang menumpahkan pati rasa hidupnya dalam bentuk status-status. Ada yang menajamkan fokusnya pada game-game online yang berseliweran di jagat maya. Pula ada yang “mencuri” film atau lagu kekinian di situs-situs “gelap”. Lebih kurang saya juga demikian, berselancar di alam maya sambil sesekali meneguk kopi hitam pahit yang sebelum disajikan sudah menalak gula. Banyak  hal yang saya lakukan jika sudah masuk ke alam maya. Selemah-lemahnya daya adalah mengagumi karya (tulisan, lukisan, ilustrasi, prestasi) orang dari berbagai daerah. Atau paling tidak stalking, kira-kira siapa lagi pemimpin negeri yang tertangkap sebab akal buruknya. Daerah mana lagi yang dijadikan wadah kekerasan yang “dilegalkan”. Kejadian apa yang terus disoroti dan kejadian apa yang seharusnya disoroti namun tidak.

Sedang asik-asiknya tenggelam dalam buai alam maya. Atmosfer biasa-biasa saja yang sedang saya alami itu terganggu dengan tingkah tak layak seorang gadis tepat dihadapan saya. Maaf, gerak-geriknya bak tante-tante biang gosip di sinetron-sinetron lokal. Tutur bahasanya tak berpagar,  suaranya sudah mentok besar begitu.

Sesekali ia terkejut berlebihan, sampai sumpah-sumpah pula. Sesekali tertawa terpingkal-pingkal tanpa peduli dengan orang yang juga sedang asik mengobrol disekitarnya. Entah apa penyebabnya sampai ia mampu menepis indahnya tutur kata dan perilaku.

Teukeuch’ak, saya menyebutnya begitu. Di Aceh bagian barat-selatan menyebutnya jantheng. Pun ada yang menyebutnya eumpak. Teukeuch’ak, jantheng, atau  eumpak berarti genit dalam Bahasa Indonesia. Nah, pelakunya tepat berada di hadapan saya. Korbannya termasuk saya sendiri.

Sempat beberapa saat saya amati, lalu muncul tanya “apinya” apa. Saya tidak paham betul apa. Namun apakah norma-norma pergaulan muda-mudi sekarang sudah setersesat ini. Lebih jauh, “apinya” apa. Apakah karena budaya masyarakat Aceh yang santun dan pandai merawat malu itu sudah almarhum atau sedang hibernasi.

Apakah benar saya yang menjadi korban dan ia pelakunya. Atau mungkin ia adalah korban sesungguhnya, dan justru saya yang tidak peduli akan hal itu. Dan apakah itu menular, atau hanya segelintir orang saja. Bagaimana mulanya, bagaimana bisa. Apakah benar jika itu hanya berlaku untuk kalangan kaum muda-mudi yang tidak tahu la. Atau tidak ada yang memberinya sedikit pengetahuan akan la. Apakah karena ia tidak cukup banyak membawa “bekal” dari kampung halamannya.

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan hanya duduk di warung kopi. Ia secara otomatis berubah menjadi salah satu cermin “wajah” kita saat ini. Sudah seburuk apa kita berdandan. Apakah membangun jalan lebih penting daripada membangun malu. Apakah membangun jembatan lebih penting daripada membangun perilaku.

Jika saja saya menegurnya, dengan kata yang paling sopan dan mudah dimengerti, seperti; Dik, mohon sedikit lebih tenang dan kecilkan suara. Apakah sesegera itu pula ia dapat mengubah rumus-rumus pergaulannya, perangainya di muka umum. Di tempat yang banyak orang justru menyembunyikan wujud aslinya.

 

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s