Headline, bagi Siapa?

Pada anatomi media masa, headline menjadi wajah yang mencuri minat baca. Ia menjadi godaan paling mujarab untuk “menjerumuskan” para pembaca membeli, dan mengeja sebuah peristiwa, kata demi kata. Mengamini, sambil mengeleng-gelengkan kepala, lalu menjadi bahan bincang di meja-meja warung kopi.

Dari sekian banyak tahapan pemberitaan; menentukan peristiwa, menentukan target orang yang akan diwawancarai, menulis dalam bentuk tulisan, editing, publish. Pembaca akan berperan setelahnya, yakni mengkonsumsi. Pembaca secara umum, langsung, tidak bisa mengintervensi praktek-praktek jurnalistik. Nantinya, pembaca hanya dapat memberi feedback. Lanjutkan membaca Headline, bagi Siapa?

Aceh Menuju Wisata Halal 2016

Setelah sebelumnya populer dengan wisata syariat, kini Aceh mulai menjajaki liga baru; wisata halal. Sepintas tidak ada perbedaan antara wisata syariat dan wisata halal, ia serupa. Keduanya menggunakan istilah dalam paham islam, yang maknanya kurang-lebih tolok ukur standard islam. Kalau sudah halal, berarti sudah sesuai standard. Lanjutkan membaca Aceh Menuju Wisata Halal 2016

Teukeuch’ak

Lazimnya, muda-mudi Banda Aceh menghabiskan waktu luangnnya di warung-warung kopi. Ragam. Diantaranya online, menikmati wi-fi “gratis”.  Ada yang menumpahkan pati rasa hidupnya dalam bentuk status-status. Ada yang menajamkan fokusnya pada game-game online yang berseliweran di jagat maya. Pula ada yang “mencuri” film atau lagu kekinian di situs-situs “gelap”. Lebih kurang saya juga demikian, berselancar di alam maya sambil sesekali meneguk kopi hitam pahit yang sebelum disajikan sudah menalak gula. Banyak  hal yang saya lakukan jika sudah masuk ke alam maya. Selemah-lemahnya daya adalah mengagumi karya (tulisan, lukisan, ilustrasi, prestasi) orang dari berbagai daerah. Atau paling tidak stalking, kira-kira siapa lagi pemimpin negeri yang tertangkap sebab akal buruknya. Daerah mana lagi yang dijadikan wadah kekerasan yang “dilegalkan”. Kejadian apa yang terus disoroti dan kejadian apa yang seharusnya disoroti namun tidak. Lanjutkan membaca Teukeuch’ak

Kesawit-sawitan

Setelah kopi, sawit adalah cara lain masyarakat umum mengingat Aceh. Siapa saja yang sedang punya banyak uang, atau yang sedang menunggu warisan. Pasti pernah terlintas ketika dulang ide untuk membuka lahan menanam sawit. Atau membeli lahan yang sudah ditanami sawit. Atau memperluas lahan sawitnya dengan sawit baru. Atau membangun pabrik sawit sebab ingin melipatgandakan rupiah, membeli mobil baru di Medan dan disemak-semakan di Banda Aceh. Lanjutkan membaca Kesawit-sawitan

Travel. Culinary. Writing.